09 October 2019, 14:14 WIB

Pemkab Karawang Dianggap Tidak Serius Tangani Masalah Lingkungan


Cikwan Suwandi | Nusantara

MI/Cikwan Suwandi
 MI/Cikwan Suwandi
Ratusan warga dan pegiat lingkungan di Karawang menggelar aksi unjukrasa di Pemkab Karawang dengan membawa 9 tuntutan ekologis, Rabu (9/10)

RATUSAN warga dan pegiat lingkungan menggelar aksi unjukrasa di Kantor Pemkab Karawang, Jawa Barat. Mereka membawa 9 tuntutan rakyat tentang permasalahan ekologis. Menurut Koordinator Aksi, Tricahyo Rere mengatakan kesembilan tuntutan tersebut di antaranya adalah mendesak Pemkab Karawang untuk melakukan gugatan terhadap Pertamina atas pencemaran oil spil, menolak alih fungsi lahan pertanian, menaikan status pegunungan Sanggabuana, dan menolak penimbunan sampah impor.

"Kemudian tuntutan lainnya menolak segala izin pertambangan, mendesak pemkab untuk tegas terhadap pelaku pencemaran, pengawasan dan menyelesaikan secara tegas dan terbuka terhadap pembuang limbah B3, segera membuat kajian lingkungan hidup strategis (KLHS), menyelesaikan kasus pencemaran sungai," kata Rere dalam aksi kepada wartawan, Rabu (9/10).

Rere menjelaskan sejauh ini Pemerintah Kabupaten Karawang dinilai tidak pernah serius dalam penanganan kasus-kasus dan perlindungan lingkungan di Karawang.

"KLHS sejauh ini pun selalu gagal dibuat, padahal itu sebagai bagian terpenting untuk pembangunan di Karawang," katanya.

Kemudian untuk kasus pertambangan, Rere mengatakan, dari tahun 2014 hingga saat ini, Karawang terus menjadi incaran investor tambang. Hal tersebut bisa dilihat dari kronologis penolakan izin usaha tambah beberapa perusahaan, antara lain: PT. JSI, PT. MPB, PT. INDORENUS, PT. ATLASINDO, dan perusahaan sekelas CV yang secara sembunyi-sembunyi mengeksploitasi Sumber Daya Alam (SDA) di Karawang Selatan. Pertambangan batu gamping, dan batu andesit menjadi masalah krusial yang tidak kunjung terselesaikan.

"Ketegasan Pemkab Karawang sangat diperlukan jika memang pernyataan bupati menyatakan tidak akan mengeluarkan izin. Tetapi itu hanya pernyataan isapan jempolnya. Jika beliau tegas, harusnya sudah secara tegas melakukan penolakan dari awal tanpa mempersilahkan kesempatan adanya izin lingkungan," katanya.

baca juga: Muslim United Tidak Diizinkan Meminjam Masjid Gedhe Keraton Yogya

Sedangkan untuk peningkatan gunung terakhir di kawasan pantura di Jawa Barat, dari hasil observasi di lapangan, kawasan pegunungan Sanggabuana memberikan penghidupan. Sebab pegunungan itu mempunyai lebih dari 100 alur air sebagai sumber kehidupan sekitar. Namun banyaknya eksploitasi alam, membuat kritis kondisi ekologisnya. Maraknya penambangan, alih fungsi lahan hutan oleh korporasi, menjadi penyebab meningkatnya daya rusak lingkungan. (OL-3)

 

BERITA TERKAIT