09 October 2019, 10:54 WIB

Tersangka Karhutla, Polda Riau Tahan Manajer PT SSS


Rudi Kurniawansyah | Nusantara

Antara
 Antara
Manajer PT SSS dikawal petugas Kepolisian terkait kasus karhutla di Kantor Ditreskrimsus Polda Riau, di Pekanbaru, Riau, Selasa (8/10).


DITRWSKRIMSUS Polda Riau menahan pihak manajemen PT Sumber Sawit Sejahtera (SSS) berinisial AOH sebagai tersangka penanggung jawab kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) perusahaan kelapa sawit di Kabupaten Pelalawan. Tersangka AOH merupakan pejabat sementara (pjs) manager operasional perusahaan yang diduga bertanggung jawab atas kebakaran lahan seluas 150 hektare di areal konsesi inti perusahaan pada Februari 2019.

"AOH ditahan sebagai penanggung jawab untuk tersangka PT SSS," kata Direktur Ditreskrimsus Polda Riau Ajun Komisaris Besar (AKB) Andri Sudarmadi di Pekanbaru, Rabu (9/10).

Dijelaskannya, selain menahan AOH, proses penyidikan terhadap PT SSS terus berlanjut kepada pemeriksaan sejumlah pimpinan perusahaan. Dari hasil penyidikan, kontruksi hukum, dan keterangan saksi ahli didapati adanya unsur kelalaian dalam kasus karhutla PT SSS di Desa Pangkalan Terap, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, Riau.

Perusahaan diduga dengan sengaja menelantarkan kebun HGU kelapa sawitnya sehingga tidak terawat dan menyebabkan terjadinya karhutla yang cukup besar. Perusahaan juga diduga lalai dalam menyiapkan perangkat antisipasi dan tim reaksi cepat untuk melakukan pemadaman.

Sementara Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari) mengapresiasi langkah Kapolda Riau, Inspektur Jenderal (Irjen) Agung Setya Imam Effendi yang menahan penanggung jawab PT Sumber Sawit Sejahtera (PT. SSS), AOH.

"PT SSS sudah ditetapkan sebagai tersangka kebakaran hutan dan lahan sejak Agustus 2019 oleh Polda Riau, jadi memang sudah seharusnya ditahan," kata Koordinator Jikalahari Made Ali.

PT SSS ditetapkan sebagai tersangka pada Agustus 2019 setelah dilakukan penyelidikan oleh Polda Riau sejak Februari 2019 dengan luas kebakaran mencapai 150 hektare. Selain PT SSS, pada Februari 2019 itu, Polda Riau juga telah melakukan penyelidikan ke PT Sumatera Riang Lestari (SRL), namun sampai saat ini belum juga ditetapkan tersangka oleh Polda Riau.

"Kapolda Riau harus segera menetapkan tersangka korporaasi lainnya yang terlibat kebakaran hutan dan lahan di Riau hingga menyebabkan 3 orang meninggal dan lebih 300 ribu orang terkena ISPA," kata Made.

Hasil analisis hotspot Jikalahari melalui satelit Terra-Aqua Modis Januari- September 2019 ditemukan hotspot dengan confidance diatas 70 persen ada 3.582 titik dan 1.277 titik hotspot berada di korporasi HTI dan sawit.

Perusahaannya adalah PT Sumatera Riang Lestari 269 titik, PT Sari Hijau Mutiara 95 titik, PT Rimba Rokan Lestari 74 titik, PT RAPP 68 titik, PT Bukit Raya Pelalawan 63 titik, PT Triomas FDI 47 titik, PT Perkasa Baru 47 titik, PT Arara Abadi 48 titik, PT Rimba Rokan Perkaasa 52 titik, PT Satria Perkasa Agung 45 titk, PT Bina Daya Bintara 31 titik, PT Ruas Utama Jaya 25 titk dan PT Sekato Pratama Makmur 9 titik.

Selain melakukan analisis hotspot, Jikalahari melakukan investigasi sepanjang 2019 untuk mendapatkan fakta lapangan yang terjadi. Hasilnya ditemukan kebakaran terjadi di wilayah korporasi hutan tanaman industri dan korporasi sawit. Perusahaannya adalah PT Sumatera Riang Lestari, PT Rimba Rokan Lestari, PT Satria Perkasa Agung, PT Riau Andalan Pulp and Paper, dan PT Surya Dumai Agrindo.

"Jikalahari menunggu Kapolda Riau menetapkan tersangka dan menahan penanggung jawab korporasi lainnya yang juga terlibat kebakaran hutan dan lahan di Riau," kata Made.

baca juga: Kerugian Bencana Kebakaran di Kalsel Capai Rp70,321 Miliar

Selain itu Kapolda Riau perlu membantu Gubernur Riau untuk menyegel korporasi yang lahannya terbakar. Per 30 September 2019 Gubernur Riau telah menginstruksikan agar lahan yang terbakar disegel untuk mengetahui siapa pelakunya.(OL-3)

 

BERITA TERKAIT