09 October 2019, 10:28 WIB

Badan Geologi Luncurkan Atlas Zona Rentan Likuefaksi di Indonesia


Mitha Meinansi | Nusantara

MI/Mitha Meinansi
 MI/Mitha Meinansi
Kepala Badan Geologi, Rudy Suhendar (berbaju putih) menyerahkan Atlas Kerentanan Likuefaksi kepada Sekdaprov Sulteng, M Hidayat Lamakarate

BADAN Geologi melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral secara resmi menerbitkan dan menyebarkan atlas zona kerentanan likuefaksi untuk seluruh wilayah Indonesia. Peluncuran atlas tersebut berlangsung di Swiss Belhotel Palu, Rabu (9/10). Penyusunan peta tersebut bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai daerah-daerah yang memiliki kerentanan terhadap likuefaksi di Indonesia.

Hadir dalam acara peluncuran atlas antara lain Sekda Provinsi Sulawesi Tengah, Mohammad Hidayat  Lamakarate, Direktur Direktur Daerah Tertinggal, Transmigrasi dan Pedesaan Bappenas, Velix Vernando Wanggai, Direktur Penataan Kawasan Sufrijadi, Kementerian ATR, serta Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Rudy Suhendar.

Melalui peta kerentanan likuefaksi yang dimaksud, Badan Geologi berharap upaya-upaya mitigasi bencana dapat ditingkatkan bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia di masa mendatang. Selain peluncuran atlas zona kerentanan likuefaksi, Badan Geologi Kementerian ESDM juga menggelar talkshow dengan tema Mengenal Likuefaksi untuk menyelaraskan kehidupan di atas potensi bahayanya.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Rudy Suhendar mengatakan potensi ancaman gempabumi sepanjang masa di Indonesia akibat pertemuan tiga lempeng bumi besar yakni Eurasia, Indo-Australia dan Pasifik.

"Selain ancaman gempabumi, bahaya ikutannya seperti likuefaksi turut pula mendatangkan ancaman tersendiri, bagi keselamatan jiwa masyarakat maupun keamanan infrastruktur," urai Rudy Suhendar, saat memberikan sambutan.

Menurutnya, Likuefaksi sebagai bahaya ikutan pasca gempabumi merupakan proses peluluhan massa tanah akibat guncangan gempa, yang menyebabkan tanah kehilangan kekuatannya dan berperilaku serupa fluida atau cair. Peluluhan atau mencairnya massa tanah dapat mengakibatkan kerusakan bangunan yang berada di atasnya, seperti bangunan miring, kerusakan pondasi, timbulnya retakan-retakan tanah, hingga amblasnya bangunan.

Peluluhan tanah yang terjadi di Palu setahun yang lalu, turut memicu pergerakan dan deformasi tanah permukaan yang mengakibatkan perpindahan tanah permukaan yang merusak bangunan-bangunan di permukaan dan pada akhirnya menimbulkan banyak korban jiwa.

baca juga: PUPR Anggarkan Rp50 Miliar Untuk Tangani Banjir Di Babel

Meski satu tahun telah berlalu dari peristiwa likuefaksi yang melanda wilayah Kelurahan Petobo, Kota Palu, Sulawesi Tengah, hingga saat ini, dampak dari peristiwa tersebut masih dirasakan sebagian warga yang menjadi korban bencana. Mereka harus kehilangan rumah dan harta benda lainnya, akibat hantaman air yang disertai lumpur. (OL-3)

 

BERITA TERKAIT