09 October 2019, 08:03 WIB

Akses Jalan ke Sekolah Diblokir, Siswa SMAN 2 Aesesa Diliburkan


Ignas Kunda | Nusantara

MI/Ignas Kunda
 MI/Ignas Kunda
Jalan menuju ke SMAN 2 Aesesa, Kabupaten Nagekeo, NTT diblokir oleh pemilik tanah karena belum dibayar ganti rugi pembebasan tanah.


SEMUA siswa SMA Negeri 2 Aesesa, di Dusun 2, Desa Olaia, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, NTT tidak bisa melakukan aktivitas belajar mengajar selama dua hari ini, karena jalan menuju sekolah diblokir pemilik lahan (9/10). Pantauan Media Indonesia pagar dengan bambu setinggi bahu orang dewasa terlihat memotong jalan selebar kurang lebih 3 meter.

Claudia Soba, siswa kelas 3 SMAN 2 Aesesa yang berhasil ditemui menuturkan mereka kaget ketika saat akan menuju kompleks sekolah terlihat pagar bambu menghalangi jalan menuju sekolah.

"Kami berhenti di depan pagar. Teman kami yg sudah lebih dulu ke sekolah pulang dan bilang bahwa kepala sekolah suruh libur sampai batas waktu tak tentu hingga tidak ada blokir jalan lagi," kata  Claudia, Rabu (9/10).

Menurut pemilik lahan, Frederika Dhaka terpaksa menutup jalan menuju sekolah karena itu adalah satu-satunya cara karena sejak 2015 hingga kini tidak ada ganti rugi pembebasan lahan untuk jalan menuju sekolah. Frederika kesal karena ketika awal pembukaan jalan ia sebagai pemilik lahan tak pernah dilibatkan

"Tiba-tiba saja alat berat datang langsung gusur tanpa pemberitahuan. Padahal itu saya punya tanah. Setelah gusur mereka bilang mau ganti dengan membangun rumah. Itu janji mantan kepala desa yang sampai sekarang tidak dipenuhi," ujarnya kesal.

Frederika mengaku bahwa penutupan jalan menuju sekolah sudah dilakukannya sebanyak 3 kali hingga ia harus dibawah ke kantor polisi sektor Aesesa pada 2017. Di kantor polisi, Frederika menuturkan bahwa ada janji dari pihak pemerintah desa dengan tanda tangan untuk pembangunan rumah batu berukuran 7x9. Namun janji itu tidak dipenuhi dalam tahun berjalan hingga akhirnya membuatnya kecewa dan menutup akses jalan menuju sekolah.

" Hari ini terpaksa saya tutup jalan dan anak di sekolah tidak bisa sekolah, karena tahun 2015 pemerintah desa janji bangun rumah dengan ukuran 6x7, tapi hanya janji. Di tahun 2017 di kantor polisi janji bangun 7x9 tapi juga tidak jadi sampai hari ini," keluh Fraderika
 
Kepala Desa Olaia, Abraham Soba menjelaskan persoalan ini sejak 2015 pada masa kepala desa lama. Berdasarkan bukti yang mereka dapatkan bahwa hanya ada dokumen pelepasan hak tidak ada bukti soal kompensasi.

Pihaknya juga menyatakan bahwa Frederika sebagai pemilik lahan juga sudah menandatangani surat pernyataan pembebasan lahan tanpa kompensasi apapun. Abraham melanjutkan pihaknya juga menelaah kembali dokumen penandatangan di Polsek Aesesa namun tak ditemukan bukti janji pemerintah desa lama soal pembangunan rumah 7x9.

"Sebagai manusia juga kami kasihan karena beliau adalah anak yatim. Namun kami juga berpikir bijak dengan memberikannya bantuan rumah batu 6x7. Tetapi bukan sebagai bentuk kompensasi karena akan sangat tidak adil bila ada warga lain di desa ini juga memberikan tanahnya secara sukarela tanpa kompensasi apapun. Bagaimana jadinya bila akhirnya semua pemilik lahan yang awalnya memberikan lahan secara sukarela lalu kini meminta kompensasi," tukasnya. 

Pada kesempatan berbeda Kepala SMAN 2 Aesesa, Mateus No mengaku pemblokiran jalan sudah dilakukan sebanyak lima kali. Ia berharap masalah tersebut bisa diselesaikan sehingga anak-anak bisa bersekolah tanpa gangguan. Mateus menambahkan bahwa sebenarnya banyak bantuan secara kemanusiaan telah diberikan oleh pihak sekolah pada pemilik lahan dengan jaminan tidak menutup akses jalan menuju sekolah namun tak berbuah hasil.

baca juga: Panglima TNI dan Kapolri Dijadwalkan Temui Pengungsi di Timika

" Kamidari sekolah dengan siswa sering bantu dia memanen atau menanam, Bahkan membangun pagar di tanah miliknya. Kami ini hampir seperti pekerjanya dia. Tapi dia tidak punya hati dan menutup lagi jalan ke sekolah," tutup Mateus. (OL-3)

 

BERITA TERKAIT