09 October 2019, 06:20 WIB

Deteksi Dini Kanker Turunkan Angka Kematian


(Rif/H-3) | Humaniora

DOK. KALBE FARMA
 DOK. KALBE FARMA
Umum Yayasan Kanker Indonesia Prof Dr dr Aru Sudoyo berbicara dalam acara Kalbe Academia for Media di Bogor, Jawa Barat, kemarin.

ANGKA kematian akibat kanker di kawasan Asia sebesar 57,3% menjadi yang tertinggi dalam Global Cancer Mortality berdasarkan data World Health Organization. Jumlah kasus mencapai 5.477.000 dari 9,6 miliar kasus di seluruh dunia.

Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia (YKI), Prof Dr dr Aru Sudoyo SpPD, KHOM, FINASIM, FAC meng-ungkapkan, angka tersebut cukup mengkhawatirkan khususnya untuk Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar ketiga di Asia setelah Tiongkok dan India.

"Untuk menurunkan angka tersebut, deteksi dini pada kanker menjadi hal yang penting karena dapat membantu mencegah sel kanker menjadi lebih ganas," jelasnya.

Aru menambahkan, pertumbuhan kanker tidak mendadak dan memerlukan waktu yang lama. Deteksi dini memungkinkan dapat mencegah kanker. "Contohnya sekarang kita bisa lihat, kanker serviks sempat menjadi nomor satu di Indonesia, namun sekarang turun menjadi nomor dua hal ini karena adanya program deteksi dini yang juga didukung pemerintah," ujarnya.

Deteksi dini, lanjut Aru, dapat dilakukan dengan beberapa cara. "Bisa dengan pemeriksaan rektal dengan jari (digital rectal exam), pemeriksaan darah dalam tinja atau darah samar (FOBT), endoskopi atau kolonoskopi, pemeriksaan rontgen dengan barium enema, virtual colonoscopy, atau CT Scan, hingga pemeriksaan DNA tinja," tuturnya.

Menurut Aru, gaya hidup menjadi faktor terbesar penyebab seseorang mengidap kanker. "Gaya hidup menjadi penyebab 90%-95% kanker. "Pola makan yang tidak sehat, obesitas, infeksi, hingga konsumsi alkohol menjadi penyebab utama, sedangkan sisanya diakibatkan keturunan, " ungkapnya. Ia menambahkan, menurunkan berat badan menjadi ideal, membangun pola makan yang sehat, serta melakukan aktivitas fisik yang teratur dapat mencegah kemungkin-an kanker hinga 30%-35%.

Angka kejadian tertinggi di Indonesia untuk laki laki ialah kanker paru, yaitu sebesar 19,4 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 10,9 per 100.000 penduduk, diikuti dengan kanker hati sebesar 12,4 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 7,6 per 100.000 penduduk. Sementara itu, angka kejadian untuk perempuan yang tertinggi ialah kanker payudara, sebesar 42,1 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 17 per 100.000 penduduk, yang diikuti kanker leher rahim sebesar 23,4 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 13,9 per 100.000 penduduk.

Sebelumnya, Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) mendo-rong deteksi dini kanker payudara masuk program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Pasalnya, pengobatan kanker pada stadium lanjut memakan biaya tidak sedikit.

"Kalau bisa dicegah di hulu akan menekan biaya untuk pengobatan kanker stadium lanjut," kata Ketua Umum YKPI Linda Gumelar beberapa waktu lalu. (Rif/H-3)

BERITA TERKAIT