08 October 2019, 19:00 WIB

UAI Bedah kaitan Fintech dengan Hukum Islam


Ghani Nurcahyadi | Humaniora

Dok. Universitas Al-Azhar Indonesia
 Dok. Universitas Al-Azhar Indonesia
Pelaksanaan Konferensi Internasional soal Fintech dan hukum islam di UAi

AGAMA Islam punya keterkaitan dengan pengembangan ilmu pengetahuan, Tak terkecuali dengan berkembangnya teknologi yang menghadirkan sejumlah solusi, seperti kehadiran teknologi finansial (fintech).

Hal itu jadi fokus utama dalam konferensi internasional ketiga yang diselenggarakan Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) melalui Pusat Integrasi Pemikiran Islam dengan Ilmu Antar Lembaga dan Mata Kuliah Universitas (PII MKU) di Kampus UAI, Jakarta, Selasa (8/10).

Konferensi yang kali ini bekerja sama dengan Institut Internasional Pemikiran Islam (IIIT) itu bertajuk Islamic Epistemology Financial technology on the Perspective of Law dan Syariah Economy.

Rektor UAI Prof Asep Saefuddin mengatakan, konferensi tersebut dilaksanakan untuk memperkuat komitmen di antara sarjana muslim dalam menemukan persimpangan wahyu dalam kitab suci Al-Qur'an dengan ilmu pengetahuan modern.

"Sebagai ilmuwan, kami ingin mencari koherensi integrasi antara kaidah islam dengan ilmu pengetahuan. Khusus kali ini, adalah yang berkaitan dengan fintechdan ilmu ekonomi dan bagaimana pandangannya dari sisi ekonomi syariah," kata Asep dalam keterangan tertulisnya,

Baca juga : Inovasi Mahasiswa Unpam Juara di Ajang I3E 2019

Untuk menguatkan hal tersebut, UAI menghadirkan sejumlah cendikiawan muslim di bidang ekonomi dan bisnis keuangan baik dari kalangan internasional maupun nasional.

Salah satunya ialah Direktur Bank Pembangunan Islam (IDB) Ibrahim Ali Shoukry yang memaparkan tentang tantangan dan peluang fintech dalam perbankan islam secara global.

Selain itu hadir pula Kepala Grup Inovasi Keuangan Digital Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Triyono yang memaparkan perkembangan regulasi fintech di Indonesia.

Konferensi tersebut dihadiri juga oleh 5 duta besar negara asing dam perwakilan dari 16 kedutaan besar, serta 11 rektor perguruan tinggi negeri maupun swasta,

Selain konferensi, diadakan juga Working Group Discussion yang dihadiri 13 perguruan tinggi di Indonesia.

Direktur Jenderal Sumber Daya Ilmu Pengetahuan dan Teknoogi Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Ali Ghuforn Mukti mengapresiasi penyelenggaraan konferensi internasional tersebut,

"Saya berharap juga pembentukan konsorsium ini dapat melaksanakan kajian-kajian yang membawa pencerahan untuk umat," ujarnya. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT