08 October 2019, 21:44 WIB

Vaksin PCV dan Rotavirus bakal Masuk Imunisasi Wajib


Zubaidah Hanum | Humaniora

MI/Zubaidah Hanum
 MI/Zubaidah Hanum
Diskusi Urgensi Optimalisasi Manajemen Pengelolaan Obat dan Vaksin Terkait Efisiensi Anggaran 2019

PEMERINTAH tengah mempertimbangkan perluasan imunisasi dasar saat ini dengan menambahkan vaksin pneumococcal conjugate vaccine (PCV) dan rotavirus. Kedua jenis vaksin itu diharapkan bisa menekan angka kematian bayi dan anak.

Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat Kementerian Perencanaan, Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Pembangunan Nasional (Bappenas) Pungkas Bajuri Ali menyebutkan, PCV adalah vaksin pencegah pneumonia atau radang paru akut dan rotavirus adalah vaksin pencegah diare.

"Saat ini pneumonia dan diare menjadi penyebab kematian terbanyak bayi dan anak di Indonesia. Presiden juga minta angka kematian Ibu dan bayi diturunkan. Makanya kita prioritaskan," kata Pungkas dalam diskusi bertajuk Urgensi Optimalisasi Manajemen Pengelolaan Obat dan Vaksin Terkait Efisiensi Anggaran 2019 di Jakarta, Selasa (8/10).

Menurut data Kementerian Kesehatan, ada 1,1 juta kematian setiap tahun akibat pneumonia. Perbandingan hasil Riskesdas pada 2013 dan 2018 menunjukkan ada peningkatan prevalensi pneumonia dari 1,6% menjadi 2% untuk kelompok usia 12-23 bulan.

Pungkas menyebutkan, kecukupan vaksin merupakan salah satu kebijakan preventif yang diprioritaskan pemerintah, daripada kuratif.

Baca juga : WHO akan Perkenalkan Vaksin Kedua Ebola

Karena keterbatasan anggaran, sambung Pungkas, saat ini pemerintah baru mewajibkan imunisasi PCV di Lombok, NTB dan sejumlah kabupaten/kota di Bangka Belitung. Sedangkan, untuk vaksin Rotavirus untuk diare baru disosialisasikan, belum diwajibkan.

"Kami lakukan bertahap. Kemenkes sudah punya petanya. Tahun ini di dua daerah dulu. Seharusnya itu public health jadi harus dapat perhatian," imbuhnya.

Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Hasbullah Thabrany mengatakan, pemerataan imunisasi pneumonia adalah salah satu syarat mewujudkan generasi sehat.

Saat ini, introduksi vaksin di indonesia tertinggal jauh. Khusus PCV, Indonesia masih kalah dengan Bangladesh, Myanmar, dan Nepal.

"Vaksin adalah pencegahan efektif untuk penyakit menular. Tapi Indonesia masih ketinggalan soal vaksin ini karena belum ada kesamaan pemikiran," katanya.

Untuk mengatasi harga vaksin PCV yang mahal, imbuhnya, pemerintah bisa memberi dukungan penuh pada produsen vaksin dalam negeri, PT Biofarma untuk bisa membuatnya. Saat ini berbagai vaksin biofarma telah diproduksi dan bahkan diekspor ke sejumlah negara.

Baca juga : Ponsel Bisa Deteksi Virus

Sebagai contoh, Biofarma sudah bisa memproduksi HPV, vaksin untuk mencegah kanker leher rahim dengan harga relatif murah, hanya 20% dari harga vaksin buatan perusahaan farmasi asing, yakni sekitar Rp150 ribu per suntikan.

Dukungan juga dilontarkan Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr Sudjatmiko. "Vaksin Biofarma sudah digunakan oleh lebih dari 130 negara. Kualitasnya bagus. Kita dukung Biofarma untuk bisa mempercepat pembuatan vaksin PCV," ujarnya saat menyampaikan pendapatnya di forum itu.

Health Economist dari Universitas Padjajaran, Auliya A Suwantika mengatakan pembentukan harga vaksin PCV berasal dari tiga pintu, harga UNICEF, harga kontrak, dan harga pasar. Perbedaan harga ketiganya sangat jauh.

"Sekarang kalau mau dapat PCV di rumah sakit kita harus mengeluarkan uang Rp1 juta. Untuk tiga kali imunisasi butuh Rp3 juta. Sementara dengan harga UNICEF, harga per vaksin PCV diperkirakan hanya Rp75 ribu setiap dosisnya," serunya. (OL-7)

BERITA TERKAIT