09 October 2019, 01:10 WIB

Nobel Fisika 2019 untuk Trio Kosmologi


(AFP/Uca/X-11) | Internasional

 (Photo by Jonathan NACKSTRAND / AFP)
  (Photo by Jonathan NACKSTRAND / AFP)
  layar yang menampilkan potret para pemenang Hadiah Nobel Fisika 2019

AHLI kosmologi Kanada-Amerika James Peebles beserta astronom Swiss, Michel Mayor dan Didier Queloz, kemarin memenangi penghargaan Nobel Fisika 2019 atas penelitian mereka yang dinilai telah meningkatkan konsepsi manusia akan tempat atau kedudukan bumi dalam alam semesta.

Sekretaris Jenderal Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia, Profesor Goran Hansson, mengatakan Peebles memenangi setengah dari total hadiah atas penemuan-penemuan teoretisnya terkait dengan evolusi setelah ledakan dahsyat (big bang).

"Ia telah berkontribusi pada pemahaman kita tentang bagaimana alam semesta berevolusi setelah big bang," ujar Goran.

Adapun Mayor dan Queloz akan berbagi separuh dari hadiah lainnya atas penemuan pertama pada Oktober 1995, tentang keberadaan sebuah planet di luar sistem tata surya kita (exoplanet) yang mengorbit pada bintang berjenis matahari di galaksi Bima Sakti.

"Penemuan mereka selamanya mengubah konsepsi kita tentang dunia," terang juri.

Medali emas

Peebles merupakan profesor sains Albert Einstein di Universitas Princeton, Amerika Serikat. Sementara itu, Mayor dan Queloz sama-sama profesor di Universitas Jenewa, Swiss. Queloz diketahui juga bekerja di University of Cambridge, Inggris.

Ketiganya mendapat hadiah berupa medali emas, sertifikat, dan uang sebesar 9 juta kronor Swedia atau sekitar Rp12,9 miliar.

Mereka juga akan menerima hadiah dari Raja Swedia, Carl XVI Gustaf, pada upacara formal yang akan dilangsungkan di Stockholm pada 10 Desember, bertepatan dengan peringatan kematian ilmuwan Alfred Nobel pada 1896. Dalam surat wasiatnya, Nobel meminta diberikannya penghargaan bagi para tokoh yang berpengaruh.

Dalam pernyataan yang dirilis Universitas Jenewa, Mayor dan Queloz menyatakan sangat bergembira atas hadiah Nobel. "Ini sebuah hal yang sangat luar biasa," ungkap mereka.

Rektor Universitas Jenewa, Yves Fluckiger, menyebut hadiah itu merupakan pengakuan yang luar biasa untuk karya kedua profesor. "Ini juga penghargaan untuk kreativitas dan kemampuan berpikir mereka," ujar Fluckiger. (AFP/Uca/X-11)

BERITA TERKAIT