08 October 2019, 19:04 WIB

Reputasi Nobel Sastra dan Skandal Perundungan Seksual


Adiyanto | Internasional

Jonathan NACKSTRAND / AFP
 Jonathan NACKSTRAND / AFP
 Sejumlah wartawan menunggu pemenang Nobel Fisika di Royal Swedish Academy of Sciences, Selasa (8/10). Lusa, akan Diumumkan Nobel Sastra 

TAHUN ini panitia Nobel akan mengumumkan dua pemenang sekaligus untuk bidang sastra. Sebab, tahun lalu pemenang untuk kategori tersebut ditiadakan lantaran kasus skandal seksual yang melibatkan salah seorang orang dekat panitia.

Tahun ini, panitia tidak merilis daftar kandidat pemenang. Namun, beberapa spekulasi nama yang muncul menarik dicermati, seperti penulis Tiongkok, Can Xue, novelis Jepang, Haruki Murakami, pengarang Rusia Lyudmila Ulitskaya, serta novelis Amerika Serikat dan Kanada, Joyce Carol Oates dan Margaret Atwood.  Selain mereka, beberapa nama juga dijagokan di situs rumah judi Unibet, seperti penyair Kanada Anne Carson, penulis Kenya Ngugi Wa Thiong'o dan Guadeloupean Maryse Conde dari Prancis. Siapa di antara nama-nama tersebut yang bakal diumumkan sebagai pemenang Nobel Sastra 2018 dan 2019, menarik ditunggu.

Namun, satu hal yang menjadi beban berat panitia tahun ini adalah membangun kembali kepercayaan publik terhadap reputasi Swedish Academy, lembaga penyelenggara acara ini, yang rusak akibat skandal perundungan seksual yang melibatkan orang dekat dewan juri pada tahun lalu. Apakah kursi-kursi bakal terisi di malam penganugerahan Kamis (10/1) nanti, itu yang masih menjadi tanda tanya. "Segalanya telah berubah dan kami kini menatap masa depan," ujar profesor kebudayaan Mats Malm yang kini mengambil alih posisi sekretaris pantia, kepada AFP. "Perlu banyak kerja keras, tapi kami yakin," imbuhnya.

Gonjang-ganjing di Swedish Academy bermula lantaran ulah Jean-Claude Arnault. Budayawan asal Perancis ini dekat Swedish Academy dan punya pengaruh di lingkaran elite institusi tersebut. Istri Arnault, Katarina Frostenson, adalah penyair sekaligus anggota Swedish Academy. Mereka mengelola Forum, pusat kebudayaan di Stockholm yang rutin memperoleh pendanaan dari Swedish Academy.

Arnault, 71, dituduh telah melakukan perundungan seksual terhadap 18 perempuan selama menjalani karier di dunia seni. Deretan korban Arnault banyak yang sudah buka mulut. Novelis Gabriella Hakansson, misalnya, mengatakan bahwa Arnault melecehkannya pada 2007. Seniman Anna-Karin Bylund mengalami hal serupa pada 1996. Kemudian pada 2006, pewaris tahta Swedia, Putri Victoria, dikabarkan turut jadi sasaran kecabulan Arnault. Arnault telah didakwa di meja hijau, meski bersikukuh tak bersalah.

Mantan penerbit Svante Weyler mengatakan, panitia mesti bekerja keras mengembalikan reputasi mereka, setelah beberapa kontroversi yang terjadi di ajang ini, termasuk skandal Arnault. "Perlu memilih pemenang secara bijak," ujarnya. Dia berharap panitia akan berusaha keras untuk menghindari kontroversi, dan mungkin melibatkan satu penulis yang sangat dihormati di kalangan sastra dan satu dengan daya tarik yang lebih luas.

Kontroversi sempat merebak pada ajang Nobel 1974, ketika dua anggota panitia dianugerahi penghargaan ini yakni Harry Martinsson and Eyvind Johnson. Pada 2016, Nobel Sastra juga sempat heboh karena pemenangnya diberikan kepada penyanyi dan pencipta lagu, Bob Dylan. (A-2)

 

 

BERITA TERKAIT