08 October 2019, 18:50 WIB

Warga Melukis Bersama di PKN 2019


Galih Agus Saputra | Weekend

Antara
 Antara
Warga melukis bersama di area pintu masuk Pekan Kebudayaan Nasional 2019.

ARENA pintu utama PKN 2019, Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Selasa (9/10) tampak cukup ramai dengan warga. Mereka, bersama keluarga, asyik melukis di kain panjang.

Ya, di pintu utama itu pengujung memang dapat memilih kuas dan tintanya sendiri untuk dapat berpartisipasi dalam membuat lukisan dengan tajuk utama 'Ruang Bersama, Indonesia Bahagia'. Kiranya ada dua kanvas seluas kurang lebih 3 x 10 meter yang siap dilukis, entah dengan motif maupun bahasa sesuai dengan selera pembuatnya.

Salah seorang Warga Jakarta, Tedy Suhendi mengaku tak mau menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Apalagi, kedua anaknya yang masih berusia balita saat ini sedang gemar-gemarnya menggambar di atas kertas, dan oleh karena itu ia lantas menemani kedua anaknya yang kala itu tengah asyik bereksplorasi dengan warna.

"Saya malah jadi ikut melukis ini. Menarik sekali ada ruang yang disediakan seperti ini. Cukup interaktif dan memberi ruang bagi kita semua. Tidak tahu juga ini melukis apa, tapi kita biarkan saja anak-anak dengan karyanya" tutur Tedy, saat ditemui Media Indonesia, Selasa (8/10).

Sementara itu, sebuah lukisan dengan tema sama namun lebih terkonsep dapat dilihat dari karya Ilustrator, Adam Suhanda. Perupa yang berasal dari Petukangan, Jakarta Selatan itu, mengaku sudah berkecimpung dengan karya visual mulai dari lukisan, desain grafis, hingga mural sejak 2002. Pada kesempatan ini, ia turut berpartisipasi karena ingin bercerita tentang segala sesuatu yang ia lihat dalam PKN 2019.

Bagi Adam, kebudayaan sendiri ialah DNA. Ia merupakan bagian yang amat penting bagi sebuah peradaban dan bangsa. Kebudayaan menjadi akar yang datang sejak masa lampau, namun sekaligus menjadi acuan untuk melangkah di masa depan.

"Oleh karena itu, dengan adanya ruang bersama ini harapannya akan semakin tumbuh kepedulian masyarakat terhadap kebudayaan kita yang berasal dari berbagai daerah. Ada banyak hal yang dapat kita angkat, mulai dari kearifan lokal, maupun cerita rakyat yang selama ini hilang padahal dapat menjadi ide menarik untuk sebuah karya visual," tuturnya. (M-1)

BERITA TERKAIT