08 October 2019, 18:20 WIB

Surga Kuliner di PKN 2019


Galih Agus Saputra | Weekend

Antara
 Antara
Salah satu mural di Pekan Kebudayaan Nusantara 2019

JUILO Bois mengaku sibuk betul dua hari belakangan ini. Sejak pukul delapan pagi, ia harus bergantian dengan rekannya barang untuk makan atau menyeruput kopi. Namun demikian, kerja keras itu terbayarkan karena kedainya dapat meraup keuntungan kurang lebih enam juta rupiah per hari.

Julio adalah penjaja masakan khas Bali yang berpartisipasi di Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2019, tepatnya di area gastronomi. Selain dia, adapula Aseni, penjaja Kerak Telor Bang Sapei yang kebanjiran rezeki di acara itu. Ia sudah menjual lebih dari 100 porsi kerak telor, dengan perkiraan keuntungan, satu hingga dua juta per hari.

Menurut Kurator Kuliner PKN 2019, Lita Hamzah, gastronomi memang menjadi salah satu daya tarik yang turut diusung dalam PKN 2019. Ia yang bekerja bersama tim Indonesian Gastronomi Network (IGN), di bawah bimbingan Vita Datau sudah mengkurasi sejumlah penjaja makanan di sekitar Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta hingga kemudian mendapatkan kurang lebih 40 penjaja kuliner yang turut ambil bagian dalam perhelatan kebudayaan akbar kali ini.

"Kita memang mengusahakan penjual dari sekitar sini untuk berpartisipasi. Tidak harus dari berbagai daerah, tapi yang harus ditekankan adalah mereka yang memiliki masakan sebagai representasi kuliner dari berbagai daerah nusantara," tuturnya, saat ditemui Media Indonesia, Selasa, (8/10).

Dari hasil kurasi itu, lanjut Lita, para pedagang kemudian disediakan dua ruangan besar dan petugas kebersihan oleh Kemendikbud secara gratis. Mereka, selanjutnya, hanya perlu membawa barang dagangan termasuk alat masak, maupun ornamen khusus daerahnya masing-masing yang akan dipajang selama PKN 2019.

Menariknya, pada kesempatan ini, area gastronomi PKN 2019 dikemas dengan konsep pasar tradisional. Hal itu, kata Lita, untuk memberikan kesan interaktif antara penjaja dan pembeli. Salah satu Pengunjung, Sigit Pamungkas mengaku terkejut dengan konsep tersebut.

"Awalnya saya cuma datang untuk melihat acara ini. Tapi setelah keliling-keliling, termyata ketemu dengan area (gastronomi -red) ini. Ya sudah, akhirnya nongkrong di sini dulu. Tapi bingung mau makan apa. Banyak sekali pilihannya," tutur Sigit. (M-1)

BERITA TERKAIT