08 October 2019, 17:26 WIB

500 Bilik Huntara Tidak Diminati Warga 


M Taufan SP Bustan | Nusantara

ANTARA/Basri Marzuki
 ANTARA/Basri Marzuki
Gubernur Sulteng Longki Djanggola

GUBERNUR Sulawesi Tengah Longki Djanggola mengaku, masih ada 500 bilik hunian sementara (huntara) yang belum terisi di Palu. 

Menurutnya, huntara yang belum terisi itu karena tidak diminati warga. Pelbagai alasan pun menjadi penyebab. Salah satunya, banyak huntara yang tidak sesuai dengan kebutuhan warga. 

Namun, alasan yang paling mendasar, lanjut Longki, karena huntara yang dibangun pemerintah jauh dari lingkungan awal warga tinggal. Huntara yang dibangun pemerintah di Kelurahan Tondo, Petobo, dan Duyu, dinilai jauh dari tempat warga mencari nafkah sehari-hari. 

"Kita akui itu, memang ada kekurangan. Cuman kan sudah begitu adanya, yah diterima saja sambil menunggu hunian tetap (huntap)," terangnya di Palu, Selasa (8/10).

Longki menyebutkan, proses pembangunan huntap sepenuhnya baru akan selesai awal 2020 mendatang. 

Oleh karena itu seraya menunggu pembangunannya selesai, warga yang masih tinggal di bawah tenda-tenda darurat diminta untuk pindah ke huntara.

"Ketimbang tinggal di bawah tenda, kan lebih baik pindah ke huntara," imbuhnya.

Diketahui, masih ada ribuan warga yang merupakan korban gempa, tsunami, dan likuifaksi di Palu tinggal di bawah tenda-tenda darurat. Mereka terpaksa memilih tinggal serba seadanya di bawah tenda karena merasa huntara yang diberikan pemerintah tidak sesuai dengan keinginan mereka. 

Oleh karena itu, demi kenyamanan tinggal. Warga terpaksa memilih bertahan tinggal di sejumlah titik posko pengungsian. 

"Yah, ketimbang hidup di huntara sementara tidak cukup untuk kami, mending tinggal di bawah tenda saja," aku salah satu pengungsi Rahmat Dhani, 43, ditemui terpisah di Posko Pengungsian Kelurahan Balaroa, Kecamatan Palu Barat.

Baca juga: Wapres Minta Hunian Tetap Dipercepat

Menurutnya, ia memiliki keluarga yang cukup banyak. Jika hanya diberi satu bilik huntara maka tidak cukup untuk ditempati. 

"Saya satu keluarga ada delapan orang. Nah, mana cukup. Apa lagi huntara itu cuman 4x6 meter mungkin ukurannya," tegas Dhani. 

Selain itu, huntara yang diberikan kepada Dhani jauh dari tempatnya bekerja. 

"Saya kan jualan di pasar. Kalau disuruh pindah ke Kelurahan Tondo kan jauh sekali. Mana ini tidak ada kendaraan pribadi," ungkapnya. 

Dengan alasan itu, Dhani dan sejumlah warga lainnya masih memilih untuk bertahan di sejumlah posko pengungsian. Meski diketahui, sebagian besar warga yang bertahan di posko pengungsian masih mengharapkan bantuan dari pihak mana pun. 

"Karena hidup seadanya jelas kami masih membutuhkan bantuan," tandas pengungsi lainnya Rahmawati, 49. (A-4)

BERITA TERKAIT