08 October 2019, 17:08 WIB

BMKG: Awal Musim Hujan Terlambat, Waspadai Kebakaran


 Indriyani Astuti | Humaniora

MI/SASKIA ANINDYA PUTRI
 MI/SASKIA ANINDYA PUTRI
Musim kemarau membuat kering anak Sungai Cisadane di Hutan Kota, Pintu Air sungai Cisadane, Tangerang, Rabu (21/8).

BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa ada sejumlah daerah yang awal musim hujannya terlambat. 

Kepala Subdirektorat Prediksi Cuaca BMKG M. Fadli memaparkan wilayah di atas garis ekuator atau khatulistiwa, sudah cukup banyak mendapatkan curah hujan. Sementara daerah-daerah di bagian bawah ekuator akan mengalami keterlambatan awal musim hujan seperti Provinsi Lampung, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) hingga November 2019.

"Ada hujan lokal tapi intensitasnya ringan. Potensi kekeringan ini harus diantisipasi apabila daerahnya hutan masih waspada terjadi kebakaran," terangnya dalam acara menghadiri diskusi fokus grup terkait penanganan kebakaran hutan dan lahan di Graha Badan Nasional Penganggulangan Bencana (BNPB), di Jakarta, Selasa (8/10). 

Hadir dalam acara itu perwakilan kepala daerah yang terdampak karhutla, perwakilan TNI, Polri, perusahaan di bidang perkebunan, media dan ditutup oleh Kepala BNPB Doni Munardo.

Ia menerangkan keterlambatan yang dimaksud adalah awal musim akan mundur sepuluh hingga 30 hari. Awal musim hujan, imbuhnya, ketika curah hujan di daerah tersebut sudah di atas 50 milimeter per hari. 

Menurut BMKG, kemarau di Indonesia tahun ini tidak terlalu dipengaruhi El Nino. El Nino ialah kondisi memanasnya suhu air di di Samudera Pasifik bagian tengah hingga timur. Naiknya suhu itu mengakibatkan perubahan pola angin dan curah hujan di atasnya. Saat kondisi normal, hujan banyak turun di Australia dan Indonesia. Ketika terjadi El Nino, curah hujan berkurang.

Fadli menjelaskan kemarau lebih panjang di sejumlah wilayah juga di antaranya dipengaruhi oleh rendahnya penguapan di Samudera Hindia sehigga ada daerah yang mengalami hari tanpa hujan hingga 3 bulan. 

Baca juga: BMKG : Lebih dari 100 Gempa Dirasakan Pascagempa Maluku

Untuk proyeksi cuaca dan iklim pada 2020, BMKG mengimbau agar masyarakat mewaspadai potensi bencana yang terjadi. Pasalnya dari prakiraaan, musim kemarau periode 2020-2030 di Indonesia akan lebih kering jika dibandingkan periode 2006-2016.

"Musim kemarau akan lebih kering sekitar 20% rata-rata nasional," terangnya.

Untuk musim hujan 2020, ia meminta masyarakat waspada terhadap potensi bencana hidrometrologi seperti banjir dan longsor. BMKG memproyeksikan jumlah curah hujannya tidak berubah dari 2019, tetapi dari intensitas, ada hari hujan lebatnya lebih banyak.

"Ada periode lebih kering dan ada periode hujan lebih besar. Ini harus diwaspadai potensi bencananya," pungkasnya. (A-4)

BERITA TERKAIT