08 October 2019, 16:41 WIB

Inilah Alasan Pentingnya Deteksi Dini Kanker


Rifaldi Putra Irianto | Humaniora

Grafis MI
 Grafis MI
Deteksi dini beberapa jenis kanker

BERDASARKAN data dari World Health Organization (WHO), pada 2018 kawasan Asia menduduki persentase tertinggi dengan Global Cancer Mortality (kematian akibat kanker) yakni berada pada angka 57,3% dengan jumlah kasus sebanyak 5.477.000 dari 9,6 miliar kasus di seluruh dunia.

Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia (YKI), Aru Sudoyo, mengungkapkan, angka tersebut cukup mengkhawatirkan khususnya untuk Indoesia. Pasalnya, jumlah penduduk Indonesia yang merupakan penduduk terbesar ketiga di Asia.

"Asia berada pada angka 57,3%. Hal ini menjadi penting karena masyarakat Indonesia nomor tiga terbesar di Asia, setelah Tiongkok dan India," kata Aru dalam pemaparanya, pada kegiatan Kalbe Academia For Media, di Bogor, Selasa, (8/10).

Ia menyebutkan bahwa deteksi dini pada kanker menjadi hal yang penting untuk dapat menurunkan angka kematian akibat kanker.

"Kita (Pemerintah) selama ini lupa, uang digunakan untuk fasilitas kesehatan dan obat-obatan. Sekarang baru digencarkan program deteksi dini," jelasnya.

Ia menjelaskan, deteksi dini dirasa perlu karena pada tahap tersebut dapat membatu mencegah sel kanker menjadi lebih ganas.

"Kanker itu memerlukan waktu lama. Pertumbuhan kanker tidak mendadak ada perjalananya, sehingga deteksi dini memungkinkan dapat mencegah kanker," ucapnya.

Baca juga: Kanker tidak Bunuh Harapan dan Cinta

Ia mencontohkan saat kanker serviks sempat menjadi nomor satu di Indonesia. Namun sekarang turun menjadi nomor dua.

"Hal ini karena adanya program deteksi dini yang juga didukung pemerintah," imbuhya.

Adapun Beberapa cara dapat dilakukan oleh masyarakat untuk melakukan deteksi dini pada cancer, mulai dari pemeriksaan rektal, hingga melakukan CT Scan.

"Beberapa cara dapat dilakukan untuk mendeteksi kanker dini, mulai dari pemeriksaan rektal dengan jari (Digital Rectal Exam), Pemeriksaan darah dalam tinja atau darah samar (FOBT), Endoskopi atau Kolonoskopi, Pemeriksaan rontgen dengan barium enema, Virtual Colonoscopy atau CT Scan, hingga Pemeriksaan DNA tinja," tuturnya.

Sementara itu, ia mengungkapkan gaya hidup menjadi faktor-faktor terbesar seseorang mengidap kanker, yakni berkisar 90%-95% gaya hidup menjadi faktor risiko kanker.

"Gaya hidup menjadi penyebab 90%-95% kanker. Pola makan yang tidak sehat, obesitas, infeksi hingga alkohol menjadi penyebab utama. Sementara sisanya diakibatkan oleh keturunan," ungkapnya.

"Makanan tinggi lemak dapat menimbulkan kanker tapi tidak masalah bila diimbangi dengan makanan bermineral seperti sayuran, " tambahnya

Aru menyebutkan, Kanker dapat di cegah dengan melakukan beberapa hal, yakni melakukan penurunan berat badan, pola makan yang sehat, serta aktifitas fisik yang baik juga dapat mencegah kanker sekitar 30%-35%.

"Penurunan berat badan, pola makan yang sehat, dan aktifitas fisik dapat mencegah kanker hingga 30-35 persen, " pungkasnya.

Dapat diketahui, pola merokok yang terus meningkat khususnya pada pria di Indonesia menempatkan kanker Paru menjadi kanker nomor satu yang diderita oleh pria. Peringkat kedua ialah kanker usus besar, dan ketiga kanker prostat.

Sementara untuk kanker pada perempuna, kanker payudara menjadi tertinggi nomor satu, disusul oleh kanker serviks dan usus besar di uritan berikutnya. (A-4)

BERITA TERKAIT