08 October 2019, 09:32 WIB

Pelabuhan Baai dan Tanjung Adikarto Alami Sedimentasi Parah


Agus Utantoro | Nusantara

MI/Agus Utantoro
 MI/Agus Utantoro
 Diskusi perencanaan dan manajemen pelabuhan di Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM, Senin (7/10).

INDONESIA hingga kini tidak memiliki data gelombang laut khususnya untuk kepentingan jangka panjang yang memadai. Hal ini akan menyebabkan ketidakakuratan dalam memprediksi naik turunnya gelombang yang mengakibatkan tidak akuratnya perubahan garis pantai. Hl itu disampaikan oleh Prof Nur Yuwono, dosen Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan Fakutlas Teknik UGM, dalam diskusi perencanaan dan manajemen pelabuhan di Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM, Senin (7/10).

Diskusi ini juga menghadirkan mitra Senior Experten Services yang membawa pakar transportasi dari Jerman, Franz Horberg yang memiliki pengalaman lebih dari 40 tahun sebagai ekonom transportasi dan ahli pelabuhan. Nur Yuwono menemukan banyak kasus erosi dan sedimentasi di beberapa pelabuhan di Indonesia. Ia mencontohkan Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu yang dibangun tahun 1982. Saat ini kolam pelabuhan  mengalami sedimentasi parah sebesar 600.000 m3 per tahun.

"Saat ini tidak dapat dipergunakan lagi," ujar Nur Yuwono.

Demikian juga Pelabuhan ikan Tanjung Adikarto di Kulonprogo juga mengalami sedimentasi parah. Sedimentasi sebesar 731.000 m3 per tahun dari arah barat dan 1.024.300 m3 per tahun dari arah timur.

Untuk mengatasi sedimentasi dan erosi dari struktur pantai, selama ini mengandalkan pemecah gelombang. Namun konsep tersebut belum sepenuhnya diterima pemerintah daerah setempat karena biaya pengoperasian dan pemeliharaan yang relatif mahal. Apalagi, imbuhnya, saat tidak ada peraturan untuk mendukung  metode sand by passing tersebut.

"Beberapa peraturan justru melemahkan metode ini," terangnya.

Pembicara lainnya Prof Radianta Triatmaja mengatakan desain pemecah gelombang sangat mahal. Bahkan  desainnya memengaruhi kapasitas layanan, efisiensi, serta biaya operasi dan pemeliharaan pelabuhan. Oleh karena itu, keberadaan pemecah gelombang dalam perencanaan pelabuhan harus dipertimbangkan secara serius untuk mengoptimalkan biaya pengelolaan pelabuhan.

"Untuk berfungsi optimal, diperlukan desain, konstruksi, dan pemeliharaan pemecah gelombang yang tepat," kata Radianta.

baca juga: Polda Papua Tetapkan Enam Tersangka Baru di Wamena

Sementara itu pakar transportasi dari Jerman Franz Horberg, dalam diskusi tersebut memaparkan pentingnya pembangunan pelabuhan berkelanjutan agar bisa beroperasi jangka panjang.

"Syaratnya harus memperhatikan analisis permintaan pelabuhan, perencanaan fasilitas, kebutuhan investasi, analisis finansial, perencanaan bisnis dan strategi, optimasi operasi, serta pengaturan kelembagaan di pelabuhan," ujarnya. (OL-3)

 

BERITA TERKAIT