07 October 2019, 23:05 WIB

Belasan Diplomat Junior ASEAN Berkunjung ke Banyuwangi


Usman Afandi | Nusantara

ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin
 ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar

PULUHAN diplomat muda dari negara-negara ASEAN melakukan kunjungan ke Banyuwangi, Jawa Timur. Puluhan diplomat itu ingin melihat lebih dekat Banyuwangi yang dinilai mereka telah mengoptimalkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk pengembangan daerahnya.

Puluhan diplomat muda tersebut berasal dari Kamboja, Vietnam, Myanmar, Laos, Timor Leste, dan Indonesia. Mereka ialah peserta pelatihan Capacity Building bidang Diplomatik yang digelar Kementerian Luar Negeri RI selama 10 hari, sejak 30 September hingga 9 Oktober 2019.

Pelatihan ini mengusung tema 'Diplomacy and Foreign Policy in the Era of Industrial Revolution 4.0'.

"Peserta telah mengikuti in class selama 7 hari di Jakarta. Out class-nya kami pilih Banyuwangi dengan beberapa alasan," kata Nety Rahmi, perwakilan Direktorat Kerja Sama Teknik, Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kemenlu RI saat bertemu Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas di Banyuwangi, Senin (7/10).

Nety lalu menjelaskan alasan dipilihnya Banyuwangi. Dalam pandangan Kemenlu, terang Nety, Banyuwangi merupakan satu daerah di Indonesia yang mulai memasuki revolusi industri 4.0. Pemerintahannya sudah menerapkan e-government, di mana pelayanan publiknya dijalankan dengan menggunakan TIK dan serbadigital.

"Kami kenalkan kepada mereka, daerah di Indonesia yang tengah berkembang dengan menggunakan TIK. Sebuah daerah seperti gambaran dalam revolusi industri 4.0. Sehingga mereka bisa melihat langsung praktik penerapan revolusi industri 4.0 di pemerintahan," kata Nety.

Para diplomat junior ini berada di Banyuwangi selama tiga hari, dari 6 hingga 8 Oktober. Mereka mengunjungi pusat-pusat pelayanan publik, seperti Lounge Pelayanan Publik, Mal Pelayanan Publik, dan Pendopo Kabupaten.

"Tempat-tempat ini adalah representasi penggunaan TIK dalam pelayanan publik. Seperti di lounge ini, bisa dimonitor progres pembangunan fisik desa, progres keuangan daerah realtime, maupun data-data kemiskinan," terang Nety.


Baca juga: Diseruduk Puluhan Banteng, Nelayan di Banyuwangi Tewas


Salah satu peserta diklat, Long Vathana, dari Kamboja, mengaku terkesan dengan cara Banyuwangi memanfaatkan teknologi informasi untuk percepatan pelayanan publik.

"Kami bisa mengakses data-data yang dibutuhkan. Monitoring pembangunan desa juga bisa dipantau di sini. Ini yang mengesankan bagi kami," ungkap Long.

Senada sama diungkapkan oleh peserta dari Myanmar, Chaw Su Maung. Dia mengapresiasi inovasi Smart Kampung yang memungkinkan pelayanan berbasis TI hingga ke tingkat desa.

"Ini bikin urusan warga jadi lebih mudah. Urusan surat menyurat cukup di urus di tingkat desa. Dengan TI semua jadi praktis," ungkap Su.

Dalam hal ini, Bupati Banyuwangi mengatakan bahwa kehadiran diplomat junior dari berbagai negara ASEAN ini dimanfaatkan untuk sharing pengembangan daerah dari negara ASEAN lainnya.

"Praktik-praktik pengembangan daerah dari negara ASEAN lain tentunya kami butuhkan untuk mempercepat pelayanan publik. Apa yang baik dari sana, akan kami gunakan untuk menyempurnakan kekurangan yang ada di Banyuwangi," kata Anas.

Anas juga menyatakan terima kasih kepada Kemenlu yang telah mengajak jajaran diplomat ASEAN ke Banyuwangi.

"Kami berharap saat kembali ke negara asalnya para diplomat junior ini bisa ikut mempromosikan Banyuwangi," pungkas Anas. (OL-1)

BERITA TERKAIT