08 October 2019, 01:20 WIB

Ratna Riantiarno: Demokrasi dari Ruang Keluarga


Fetry Wuryasti | Hiburan

MI/RAMDANI
 MI/RAMDANI
Ratna Riantiarno

AKTRIS yang lebih dikenal di panggung teater Ratna Riantiarno, 67, mengaku bersyukur dibesarkan dalam keluarga yang cukup demokratis. Ia pun menerapkan hal yang sama pada keluarga kecilnya kini.

Selain seniman, Ratna bertutur pernah bekerja sebagai sekretaris di perusahaan asing. Ketika Ratna menyampaikan keinginannya untuk menikah dengan sesama seniman, yaitu Robertus Riantiarno, orangtuanya sempat khawatir soal bagaimana penghidupan Ratna nantinya.  

“Orangtua menanyakan pekerjaan suami yang seniman bahwa kami membuat kelompok teater. Saya meyakinkan mereka pekerjaan ini bisa menghidupi keluarga,” cerita perempuan kelahiran Manado, Sulawesi Utara, itu, saat ditemui di Jakarta, Jumat (27/9).

Kepada orangtuanya, Ratna menegaskan, perkawinan ialah pertemuan dua orang yang menyatukan hidup dan memilih jalan hidup agar bisa berjuang bersama. Keyakinan Ratna itu membuat kedua orangtuanya me­restui keputusannya untuk menikah.

Bagi Ratna, hidup berdemokrasi dan memiliki toleransi besar sudah seperti makanan sehari-hari. Terlebih dalam kelompok teaternya, yaitu Teater Koma, yang berisi generasi dari latar belakang berbeda.

Hal tersebut membuat sudut pandang Ratna menjadi semakin lebar dalam memahami karakter anak muda kini yang mungkin cukup berbeda dengan kawula muda di masanya.

Kepada anak-anaknya di rumah, Ratna kini juga belajar menerapkan asas demokrasi tersebut. Ia coba memahami keinginan mereka, misalnya, ketika anak sulungnya, Rangga, memilih berhenti dari jurusan Seni Rupa ITB karena merasa tidak cocok.

Ratna menyadari sifat anaknya mirip dengan sang suami, yang bila sedang mood kerja, akan terus lanjut. Namun, ketika sudah hilang mood maka tidak akan dikerjakan. “Saya menganggap punya tiga anak pasti berbeda-beda karakternya. Itu akan dialami semua orang,” cerita pemeran Bu Ardiwilaga di film Petualangan Sherina (2000) itu.

Sikap itu berbeda dari karakter yang dia pe­rankan dalam Love For Sale 2 yang tayang Oktober mendatang. Dia berperan sebagai Rosmaida, ibu kos berdarah minang dengan tiga anak lelaki. Rosmaida yang konvensional menginginkan segala hal yang dilakukan anak-anaknya berdasarkan eks­pektasi dia.

“Sosok Rosmaida ini ingin selalu yang menurutnya baik, padahal belum tentu menurut anaknya. Apalagi menghadapi anak yang berbeda-beda. Anak-anaknya tentu ingin menyenangkan ibunya, tapi pada satu titik ada hal-hal yang mereka tidak bisa mengikuti apa mau ibunya,” ujarnya.

Lebih terpuaskan

Ratna mengenal dunia kesenian lewat seni tari. Dengan menari, dia bisa berkeli­ling dunia dan sempat berdomisili di New York, Amerika Serikat, selama dua tahun pada 1974-1975. Perkenalannya dengan dunia teater terjadi dalam lakon Kapai-Kapai (1969) yang dimainkannya bersama Teater Kecil.

Kapai-Kapai merupakan lakon masterpiece dramawan kenamaan Indonesia, Arifin C Noer, yang berkisah tentang perjuangan hidup Abu, sosok manusia yang termarginalkan dari realitas kehidupan.

Baik seni peran film maupun teater, bagi Ratna, keduanya memiliki tantangan ma­sing-masing. Pada teater ada proses latihan dan melakukan penampilan serta mendapat respons langsung.

Namun, karena Ratna lebih lama di dunia seni peran teater sejak 1970an, batinnya tetap lebih terpuaskan di teater. Proses yang berulang dengan latihan bersama hingga menjadikan kata-kata dalam naskah menjadi milik tokoh yang meresap ke dalam jiwa, mengisi ruang di hatinya.

“Di panggung teater seluruh orang melihat. Jadi, kita punya kebebasan dan merdeka. Akan tetapi, dengan ketidakmerdekaan ruang kame­ra di film menjadi sebuah tantangan juga. Itu berat buat saya karena terbiasa di panggung. Namun, dalam akting memang kita tidak bisa berhenti belajar,” urai Pemeran Pembantu Wanita Terpuji dalam Festival Film Bandung 2012 lewat aktingnya di film Get Married 3 itu. (H-2)

BERITA TERKAIT