07 October 2019, 16:55 WIB

Pancasilanomics Bantu Indonesia Lepas dari Middle Income Trap


Atalya Puspa | Ekonomi

Antara/Indrianto eko Suwarso
 Antara/Indrianto eko Suwarso
Peluncuran buku Pancasilanomics

EKONOMI Pancasila diyakini dapat membawa Indonesia keluar dari middle income trap. Hal itu diungkapkan oleh Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Arif Budimanta dalam peluncuran bukunya yang berjudul Pancasilanomics.

"Saya memiliki keyakinan apabila kita menerapkan ekonomi pancasila dengan sungguh-sungguh dalam kehidupan bangsa dan dalam kehidupan perekonoman nasional kita, kita dapat keluar dari middle income trap," kata Arif di Gedung Bursa Efek Indonesia, Senin (7/10).

Dalam bukunya, Arif menjabarkan, Pancasilanomics merupakan suatu sistem pengaturan tata laksana hubungan antarnegara dan antarwarga negara yang ditujukan untuk memajukan kemanusiaan dan peradaban, serta memperkuat persatuan bersama melalui gotong royong.

Dirinya meyakini, Dengan bersatunya antara usaha besar, koperasi, serta UMKM, perekonomian Indonesia bisa terus melaju melampaui angka 5%.

"Jadi kalau itu bersama-sama digerakkan, ada keberpihakan negara dalam akses likuiditas, akses pasar, akses modal, tidak ada alasan kalau kita tumbuh di atas 5%, bahkan bisa sampai 6% hingga 7%," katanya.

Baca juga : Tokoh Papua: Pancasila Perekat Persatuan

Arif melanjutkan, penerapan ekonomi pancasila perlu didukung oleh kebijakan pemerintah. Dirinya menyebut, kebijakan penyaluran akses kredit kepada UMKM perlu terus didorong untuk melibatkan UMKM dalam pertumbuhan ekonomi.

Selanjutnya, diplomasi perdagangan global juga harus dilakukan untuk meningkatkan ekspor.

"Di sisi lain kita harus memperkuat perekonomian dalam negeri. Kasih modal, kasih pelatihan, bila perlu seluruh pengadaan yang dilakukan oleh APBN semaksimal mungkin menggunakan komponen yang diproduksi dalam negeri," tuturnya.

Dengan diterapkanya ekonomi pancasila secara konsisten dirinya optimistis lima tahun ke depan Indonesia bisa keluar dari middle income trap dan memiliki pertumbuhan ekonomi di atas 5%. (OL-7)

BERITA TERKAIT