07 October 2019, 13:05 WIB

Maria Londa Tampil Kurang Maksimal


Despian Nurhidayat | Olahraga

AFP/Antonin Thuillier
 AFP/Antonin Thuillier
Maria Londa

USAI Lalu Muhammad Zohri tersungkur di Kejuaraan Dunia Atletik 2019, atlet lompat jauh putri Indonesia Maria Natalia Londa harus mengalami hal yang sama. Dilansir dari laman resmi IAAF, Maria mencatatkan lompatan sejauh 6,36 meter dan menempati peringkat 13 di grup B.

Sementara itu, posisi pertama diraih oleh atlet asal Jerman, Malaika Mihambo, dengan lompatan sejauh 6,98 meter. Pencapaian yang dihasilkan oleh Maria mengalami penurunan signifikan, mengingat dalam ajang Kejuaraan Nasional Atletik bulan Agustus lalu dia berhasil mencatatkan lompatan sejauh 6,68 meter.

Meskipun kalah di babak kualifikasi, Maria Londa tetap bersyukur dapat bertanding di ajang dunia tersebut. Ini merupakan kedua kalinya dia mengikuti ajang Kejuaraan Dunia Atletik.

"Ini adalah kejuaraan dunia kedua yang saya ikuti, di mana yang pertama saya ikuti yakni Kejuaraan Dunia di Osaka tahun 2007 saat berusia 17 tahun. Saat ini saya berusia 29 tahun dan hasil rank saya 26 dengan lompatan 6,36 m," ungkapnya dilansir dari Instagram pribadinya @marianatalialonda7997, Minggu (6/10).

Maria menambahkan meskipun tidak berhasil meraih lompatan terbaiknya, dia cukup senang dengan pengalaman dan kestabilan lompatan yang mampu ia capai dalam usia yang tak lagi muda. Dia pun mengatakan usia bukan lah penghalang bagi seorang atlet untuk mencapai prestasi.

"Saya ingin mengatakan bahwa usia tidak lah menjadi penghalang seorang atlet untuk berprestasi. Karena selama kita mempunyai tekad, kerja keras dan kemauan yang kuat, itu merupakan hal utama dalam meraih prestasi," lanjutnya.

Baca juga: Gagal di Kejuaraan Dunia, Maria Londa Tetap Bersyukur

Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) Tigor Tanjung mengatakan modal utama seorang pelompat jauh sudah mulai menurun dari Maria. Dia pun mengatakan cedera berkepanjangan menjadi pengaruh lain dari menurunnya prestasi atlet asal Bali tersebut.

"Modal utama seorang pelompat jauh ialah kemampuannya dalam sprint. Itu lah sebabnya banyak sprinter seperti legenda Carl Lewis yang juga merajai nomor ini. Selain itu teknik dua langkah pertama awalan dan posisi tubuh satu langkah sebelum papan tumpuan (penultimate step) harus sempurna," ungkapnya saat dihubingi Media Indonesia, Senin (7/10)

"Saya rasa sejalan dengan usia Maria Londa, kemampuan-kemampuan di atas mulai menurun. Lalu, cedera berkepanjangan sejak SEA Games 2015 juga terus mengganggu latihan. Campur tangan ahli medis PB PASI sebenarnya cukup berhasil. Buktinya dalam Kejurnas 2019 dia mampu mendekati prestasi terbaiknya namun tidak konsisten," lanjut Tigor.

Selain itu, Tigor menambahkan untuk ajang SEA Games yang akan terlaksana bulan depan, Maria harus mempersiapkan diri sebaik mungkin. Dia ingin atletnya mencapai kondisi paling prima di ajang multi event terbesar di Asia Tenggara tersebut.

"Untuk berhasil dalam SEA Games 2019, Maria harus bertanding dalam kondisi 100 persen fit. Ini yang harus kita perhatikan. Semoga saja," tambahnya.

Tigor juga sangat menyayangkan mengenai kekurangan sarana di Bali yang menjadi faktor terhambatnya bibit-bibit atlet. Hal ini menjadi perhatian lain yang tentunya harus bisa diatasi oleh pemerintah.

"Sedikit tambahan, minimnya sarana di Bali membuat bibit-bibit dari sana kurang berkembang. Sampai saat ini di provinsi Bali belum ada satu pun lintasan/lapangan yang memenuhi persyaratan internasional. Bertolak belakang sekali dengan fasilitas turismenya yamg sangat internasional. Padahal Maria Londa itu juara Asian Games," pungkas Tigor.(OL-5)

BERITA TERKAIT