07 October 2019, 13:05 WIB

Berdayakan Warganet untuk Tangkal Hoaks


Thomas Harming Suwarta | Politik dan Hukum

MI/ROMMY PUJIANTO
 MI/ROMMY PUJIANTO
Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara

MARAKNYA ­konten negatif yang menghiasi dunia maya saat ini membuat pemerintah dan banyak pihak prihatin. Demi menangkal konten-konten negatif tersebut, warganet (netizen) diberdayakan melalui gerakan Siberkreasi.

Demikian dikemukakan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara saat membuka Siberkreasi Netizen Fair 2019 di Jakarta, Sabtu (6/10) seperti dikutip dalam siaran persnya.

“Saat ini rentannya penyebaran konten negatif melalui internet berupa hoaks, cyber bullying, dan online radicalism. Untuk itulah, Siberkreasi muncul sebagai gerakan nasional berupaya untuk menanggulangi hal-hal tersebut dengan melakukan literasi digital,” tutur Rudiantara.  

Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi merupakan gerakan sinergis yang mendorong pengguna internet di Indonesia agar lebih bijak dan bertanggung jawab memakai media sosial.

Gerakan ini merupakan inisiatif para pemangku kepentingan yang terdiri atas kementerian, akademisi, komunitas, media, dan sektor swasta.

Selain itu, Siberkreasi ini memberikan pemahaman baru tentang literasi digital yang dirasa masih kurang dimengerti masyarakat.

“Literasi digital sangat penting karena tingkat pengetahuan masyarakat masih belum baik,” terang Menkominfo.

Rudiantara mengatakan hi-dup di era digital memudahkan masyarakat untuk mendapatkan, berbagi, hingga mengolah berbagai informasi. Di sisi lain, banyak tantangan yang muncul dan harus ­dihadapi banyak pihak, termasuk penyebaran konten negatif.

Netizen pintar

Pada kesempatan yang sama, Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Adita Irawati mengatakan diperlukan warganet pintar yang bisa menyebarkan informasi berdasarkan fakta yang akurat dan terverifikasi.   

“Netizen pintar adalah individu yang mampu menyaring informasi dan melakukan check-recheck untuk informasi yang ada,” ujar Adita.   

Sebagai staf khusus presiden bidang komunikasi, pihaknya membuat konten informatif melalui konsep dan visualisasi yang optimal sehingga menjangkau target yang hendak dituju. Ada proses memilah mana konten yang layak disebarkan dan mana yang tidak.

“Tujuannya menghindari miskomunikasi dan segala yang bisa digeneralisasi ke arah negatif,” ucap Aditia.    

Siberkreasi Netizen Fair 2019 kali ini mengangkat tema Creator generation. Anak bangsa, khususnya generasi muda, diajak lebih bebas berekspresi serta mendorong anak muda agar mampu memanfaatkan teknologi dengan memproduksi konten positif yang bisa berguna bagi banyak orang.   

Sejak diluncurkan pada 27-29 Oktober 2017 di Jakarta, Siberkreasi mewadahi 103 lembaga/komunitas dari berbagai unsur, menjangkau 442 lokasi dengan lebih dari 200 ribu peserta aktif. Gerakan  itu bersinergi dengan lebih dari 12 ribu relawan lokal seperti Relawan TIK Indonesia dan Pandu Digital. (Ant/P-2)

BERITA TERKAIT