07 October 2019, 13:05 WIB

Guru, Kurikulum dan Pendidikan Bermutu


Syamsir Alam Divisi Pengembangan Kurikulum dan Penilaian Yayasan Sukma | Opini

DOK PRIBADI
 DOK PRIBADI
Syamsir Alam Divisi Pengembangan Kurikulum dan Penilaian Yayasan Sukma

KUALITAS pendidikan lebih ditentukan bagaimana proses pembelajaran dan bimbingan direncanakan dan dikelola/dilaksanakan. Kare­nanya, guru yang berkualitas memegang peran penting. Ditambah dukungan manajemen sekolah yang kuat, akan memberikan efek positif bagi perkembangan intelektual, kepribadian, dan psikososial siswa.

Meskipun teknologi pembelajaran sudah sangat berkembang dan maju, guru masih dipandang sebagai diterminan faktor dalam menentukan keberhasilan pembelajaran siswa. Peran guru sebagai fasilitator, inspirator, motivator, dan mitra siswa dalam belajar masih belum atau tidak akan pernah bisa tergantikan dengan teknologi.

Selain itu, guru juga diklaim berperan mengendalikan efektivitas implementasi kebijakan peningkatan mutu, inovasi, dan demokratisasi pendidikan (Villega-Reimer: 2004). Banyak temuan menunjukkan adanya hubungan kuat antara apa yang dilakukan guru dan tingkat keberhasilan siswa dalam belajar (Sean: 2004, Borman dan Kimbell: 2005).

Memaksimalkan peran guru dengan memperkuat kemampuan profesional, pedagogis, dan teknologi terkait dengan pembelajaran, seharusnya menjadi prioritas kebijakan dan program nasional pendidikan. Sayangnya, keberhasilan pengelolaan mutu pendidikan masih dilihat sebatas hasil/skor agregat siswa pada ujian berskala nasional sehingga perkembangan dan kemajuan individual siswa dalam belajar dan efektivitas guru dalam mengajar belum mendapatkan perhatian maksimal.

Keterbatasan pemahaman makna kualitas pendidikan dapat mereduksi makna pendidikan dan proses pendidikan. Menyempitnya pemahaman masyarakat, termasuk pengelola dan guru terhadap makna pendidikan indikasinya sudah semakin nyata. Masyarakat (termasuk kalangan birokrasi pendidikan) sekarang lebih menghargai perolehan skor tinggi pada UN ketimbang usaha belajar keras siswa.

Selain itu, kita akan dengan mudah menyaksikan semakin rendahnya kualitas pembela­jaran yang dilakukan guru di ruang kelas yang memang sudah sangat jarang tersentuh pelatihan untuk menunjang tugas mengajar mereka yang semakin kompleks dan menantang. Akibatnya, pembelajaran yang dilakukan hanya berorientasi perolehan angka, skor tinggi, ranking, bukan pada pemahaman konsep, kemampuan berkomunikasi, dan berpikir kritis atau in depth learning.

Untuk mengembangkan kemampuan guru sebagaimana diamanatkan UU tentang guru dan dosen, No 14/2005, yang meliputi kemampuan pedagogis, kepribadian, sosial, dan profesional pilihannya, dengan mengefektifkan penyelenggaraan pelatihan dan dampingan disesuaikan kebutuhan guru/sekolah, spesifik, dan terukur.

Guru terlatih yang memiliki keempat kemampuan itu akan mampu menumbuhkan daya kreativitas siswa. Sebagaimana dikemukakan David Hargreaves (2004), “Pedagogi terbaik bukan hanya mengenai apa yang guru lakukan untuk membantu murid dalam belajar, melainkan lebih tentang bagaimana guru secara aktif mengembangkan kapasitas murid untuk selalu belajar”.
   
Jo Boeler (2019) menambahkan, setiap individu siswa memiliki kemampuan untuk belajar apa yang diinginkannya, tapi lingkungan (termasuk guru dan orangtua) sering men-discourage mereka sehingga menyebabkan mereka kehilangan percaya diri untuk belajar menghadapi tantangan/kesulitan. Boeler (2019) menegaskan, “Jika kamu berpikir dirimu tidak memiliki kecerdasan/kemampuan melakukan hal tertentu, kamu tidak hanya sedang mengelabui dirimu. Kamu merendahkan kemampuanmu sendiri untuk belajar apa pun; matematika, bola basket, atau memainkan klarinet.”

Diversifikasi kurikulum

Kualitas pendidikan, di samping dipengaruhi guru berkualitas, juga sangat ditentukan kurikulum yang digunakan. Kurikulum yang baik, terbuka, dinamis dan dapat mengakomodasi keterampilan global, dan yang didukung guru berkualitas. Selain itu, iklim sekolah yang positif akan menghasilkan lulusan dengan kemampuan akademik dan leadership kuat.

Saat ini kesempatan meng­akomodasi berbagai keterampilan global pada kurikulum sekolah sudah tersedia luas, sedangkan kebutuhan akan diversifikasi kurikulum merupakan keniscayaan. Itu karena, memang faktanya, tantangan ke depan juga sangat kompleks dan beragam.

Sekolah-sekolah yang ber­afiliasi dengan Cambridge International Examination (CIE) sudah memperkenalkan silabus global perspective. Sekolah-sekolah yang berafiliasi dengan Organisasi International Baccalaureate (IBO) yang ingin menciptakan global leaders. Memperkenalkan kurikulum dengan keterampilan global, menyiapkan siswa, untuk; pertama, memiliki kemampuan senantiasa mencari kebenaran ilmiah secara konstruktif, fokus, dan terarah.

Kedua, berani mengambil inisiatif, berpikir kritis, dan kreatif dalam membuat setiap keputusan. Ketiga, memiliki kemampuan mendengar dan terbuka terhadap gagasan baru. Selain itu juga mampu mengemukakan gagasan dan informasi dalam bahasa yang jernih, jelas, dan percaya diri. Keempat, mandiri dan memiliki kepercayaan diri melakukan sesuatu yang baru tanpa perasaan cemas.

Kelima, senantiasa memiliki kemauan belajar dan melakukan penjajakan terhadap tema dan topik yang sesuai dan relevan dengan kehidupan pribadinya, negara, dan kepentingan global. Keenam, memegang teguh prinsip moral, memiliki integritas, jujur, dan perasaan keadilan.
Ketujuh, memiliki kepekaan dan perasaan empati terhadap kebutuhan dan perasaan pihak lain. Sosok yang memiliki komitmen untuk senantiasa berbuat dan melayani kepentingan publik.

Kedelapan, menaruh hormat terhadap pandangan, nilai, tradisi, kebiasaan, dan kebudayaan yang dimiliki dan diyakini pihak/individu lain. Kesembilan, paham pentingnya menjaga keseimbangan kesehatan fisik, mental, spiritual, dan kehidupan pribadi.

Kesepuluh, bersedia sungguh-sungguh merenungkan, mempelajari, dan menganalisis kembali setiap langkah perbuat­annya, baik itu berupa kekuatan maupun kelemahan secara konstruktif (IB: 1999).

Finlandia, sebagaimana dikemukakan Pasi Sahlberg (2019), sekarang mencoba memikirkan bagaimana sekolah harus mengajarkan apa yang dibutuhkan siswa (kaum muda) ke depan dengan kurikulum yang diberi label phenomenon curriculum.

Dalam pembelajaran berbasis fenomena (Pheno BL) disebutkan: fenomena dipelajari sebagai entitas yang lengkap dalam konteksnya yang sebenarnya, dan informasi serta keterampilan yang terkait dengannya dipelajari dengan melintasi batas materi pelajaran atau lintas disiplin (MI, 2019).

Pembelajaran berangkat dari tradisi kurikulum yang berbeda. Sebelumnya, sejumlah mata pelajaran sudah terbagi menjadi bagian-bagian yang relatif kecil dan terpisah diubah menjadi sangat holistis. Struktur kurikulum berbasis fenomena mendorong terciptanya peluang untuk mengintegrasikan mata pelajaran dan tema yang berbeda sehingga dapat mendukung penerapan metode pembelajaran yang bermakna, seperti pembelajaran inkuiri, pembelajaran berbasis masalah (PBL), pembelajaran proyek, dan portofolio.

Kurikulum yang baik dan guru yang berkualitas akan mampu memberikan efek yang bermakna bagi pembelajaran siswa. Sebagaimana dikemukakan Hammond (2000), “Guru berkualitas ialah guru yang memiliki kemampuan dan dapat menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki untuk mencapai tujuan yang diharapkan dari suatu proses pembelajaran.” Wallahualam bissawab.

 

BERITA TERKAIT