07 October 2019, 12:00 WIB

Whistleblower Kedua Kasus Ukraina Muncul


Melalusa Susthira K | Internasional

AFP/Andrew CABALLERO-REYNOLDS
 AFP/Andrew CABALLERO-REYNOLDS
Presiden Amerika Serikat Donald Trump

PENYELIDIKAN pemakzulan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memasuki babak baru. Kali ini pembocor rahasia atau whistleblower kedua muncul ke publik. Ia digadang-gadang memiliki informasi langsung terkait skandal Ukraina, yang akan mendukung laporan whistleblower pertama.

"Whistleblower kedua ditangani tim hukum kami. Mereka juga membuat pengungkapan yang dilindungi hukum," terang pengacara yang mewakili whistleblower, Mark Zaid lewat Twitter, Minggu (6/10).

Adapun rekan pengacara Zaid, Andrew Bakaj, menerangkan firma hukumnya mewakili sejumlah whistleblower dalam kasus yang memicu penyelidikan pemakzulan Trump. Namun, belum jelas apakah sejumlah yang dimaksudkannya merujuk pada lebih dari dua whistleblower.

Keberadaan whistleblower kedua yang mengklaim memiliki informasi langsung disinyalir akan mempersulit Trump dan para pendukungnya untuk mengelak hal tersebut sebagai desas-desus belaka sebagaimana yang selalu diungkapkannya.

Baca juga: Pompeo Kecam Demokrat Lakukan Pelecahan terkiat Subpoena

Tidak mau kalah, Trump memberi perlawanan dengan menyatakan kembali bahwa Hunter Biden telah menerima uang sebesar US$100 ribu per bulan secara cuma-cuma dari sebuah perusahaan energi di Ukraina, sekalipun ia tidak memiliki pengalaman apa pun dalam bidang energi.

Dengan pengalaman yang tidak ada tersebut, Trump juga menyebut Hunter Biden secara terpisah mendapat US$1,5 miliar dari Tiongkok tanpa alasan yang jelas.

Adapun laporan media menyebutkan, Hunter Biden yang duduk sebagai anggota dewan direksi sebuah perusahaan gas Ukraina dibayar hingga US$50 ribu per bulan.

Dalam cicitannya di Twitter, Trump mengaku permintaannya kepada Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky untuk menyelidiki dugaan kasus korupsi yang dilakukan Hunter Biden merupakan panggilan tanggung jawabnya untuk memerangi korupsi dan bukan terkait hal ihwal politik.

"Sebagai presiden, saya memiliki kewajiban mengakhiri korupsi, bahkan jika itu berarti meminta bantuan dari negara atau negara asing. Hal itu dilakukan dari waktu ke waktu," tulis Trump.

Joe Biden pun balik merespon ujaran Trump atas tuduhan bahwa putranya telah melakukan korupsi.

"Dalam pengalaman saya, meminta pemerintah asing untuk membuat kebohongan tentang lawan politik Anda tidak dilakukan dari waktu ke waktu,” tukas Biden.

Penyelidikan terkait pemakzulan Trump bergulir atas mencuatnya bukti dari whistleblower pertama yang menunjukkan Trump menyalahgunakan kekuasaannya untuk meminta bantuan politik kepada Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.

Trump diduga mencoba menahan bantuan militer AS untuk menekan Zelensky agar mencari informasi yang mendiskreditkan pesaingnya dari Demokrat pada Pemilu 2020 mendatang, Joe Biden.

Trump yang tanpa bukti meminta Zelensky menyelidiki dugaan korupsi Hunter Biden, anak Joe Biden, yang pernah menjadi dewan direksi di sebuah perusahaan gas raksasa di Ukraina, Burisma Holdings. (AFP/OL-2)

BERITA TERKAIT