07 October 2019, 10:30 WIB

Komnas HAM Papua: Jangan Menyebar Informasi Negatif


Akmal Fauzi | Nusantara

ANTARA/Abriawan Abhe
 ANTARA/Abriawan Abhe
Sejumlah pengungsi berjalan turun dari pesawat saat tiba di Landasan Udara (Lanud) Hasanuddin, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan

PARA pengungsi yang masih bertahan di Wamena, Jayawijaya, Jayapura, atau kota-kota lain diminta tidak menyebarkan informasi atau kabar bernada negatif terkait kerusuhan yang terjadi pada 23 September lalu di Wamena.

Hal itu ditekankan Kepala Kantor Komnas HAM perwakilan Papua, Frits Ramandey. Menurutnya, informasi negatif justru semakin memperkeruh keadaan. Padahal, saat ini, kondisi di Wamena berangsur kondusif.

“Jika ada di antara para pengungsi mengalami insiden langsung saat kejadian, sebaiknya jangan menyebarkan informasi atau kabar yang bernada provokasi lagi. Itu akan memunculkan sentimen baru dan dampak negatif lainnya,” kata Frits kepada wartawan, Senin (7/10).

Menurutnya, informasi yang diberikan pengungsi sering dimanfaatkan dan diputarbalikkan kelompok tertentu.

Baca juga: PLN Tuntaskan Pemulihan Pasokan Listrik di Wamena

Frits khawatir, berita yang terkesan provokatif sangat berpotensi memicu kekerasan, baik kekerasan fisik, kebencian, dendam, atau sentimen-sentimen baru.

"Oleh karena itu, pemerintah kabupaten dan kota mesti mencegah kelompok-kelompok atau aktor yang berpotensi meresahkan masyarakat. Buka komunikasi dengan baik supaya warga mendapat jaminan bahwa kerusuhan tidak akan terjadi lagi," tambahnya.

Sejauh ini, pemerintah pusat melalui Kementerian Komunikasi dan Informasi, serta Dinas Informasi dan Komunikasi Papua sudah memblokir dan membatasi akses internet di Papua pascakerusuhan.

Sementara di sisi lain, perusahaan Facebook Inc, Kamis (3/10), mengumumkan telah menghapus ratusan laman, grup, dan akun Facebook di empat negara, termasuk Indonesia.

Tindakan itu diambil karena pengelola Facebook mengidentifikasi adanya pelanggaran yang disebut sebagai, "perilaku tidak otentik terkoordinasi." Di antara yang dihapus termasuk 100 akun terkait Papua.

Terpisah, politikus Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Tsamara Amany mengatakan, sejak awal, kebijakan Kominfo berupaya untuk menghentikan penyebaran hoaks.

"Kita harus mendengar suara Komnas HAM Papua. Tapi ini soal menghentikan arus penyebaran berita yang dipelintir. Yang dikhawatirkan berita pelintiran ini bisa memicu kerusuhan. Kita butuh suara-suara positif di berbagai media, bukan suara negatif yang justru memicu amarah,” jelasnya.

Selain itu, Tsamara menilai jaminan keamanan dengan tetap menyiagakan aparat gabungan TNI dan Polri di sejumlah titik akan membantu warga kembali menjalani hidup normal karena situasi semakin aman.

Saat kerusuhan pecah, tidak hanya warga Wamena yang mengungsi. Masyarakat dari beberapa kabupaten sekitar, seperti Lanny Jaya, Puncak, Puncak Jaya, Yalimo dan lainnya juga ikut mengungsi.

“Karena banyak yang terkena dampak, saatnya kita tumbuhkan sikap solidaritas. Baik saling memberi bantuan atau dukungan kepada pengungsi, ataupun saling menjaga dan mengingatkan agar tidak mudah percaya setiap ada berita-berita negatif yang mengarah kepada perpecahan Papua. Setiap warga negara harus bisa merasa aman, di mana pun itu,” jelasnya. (OL-2)

BERITA TERKAIT