07 October 2019, 06:00 WIB

Tetap Waspada di Musim Kemarau


Benny Bastiandi | Nusantara

 ANTARA FOTO/Jojon
  ANTARA FOTO/Jojon
Petani berjalan dipematang sawah tanaman padi yang dilanda kekeringan akibat kemarau di areal persawahan 

KEMARAU di area persawahan ternyata membuat serangan organisme pengganggu tanaman mereda. Hanya hama kresek yang jadi ancaman di musim kering. 

“Ancaman hama pasti ada, tapi tidak seluas saat musim penghujan. Di Kabupaten Cianjur, hanya hama kresek yang masih ditemukan, itu pun dengan daerah terdampak sangat kecil,” ujar Kepala Seksi Sarana dan Prasarana, Dinas Pertanian Cianjur, Jawa Barat, Dandan Hendayana, kemarin. 

Namun, ia tetap meminta petani waspada. Jika ditemukan gejala serangan hama, harus langsung ditindaklanjuti dengan pembasmian secara berimbang. 

Sampai kemarin, kemarau telah mengakibatkan 1.315 hektare lahan di daerah ini puso. Ketimbang tahun lalu, ada kenaikan lahan puso sebe-sar 2,4%. 

Kemarau juga membuat kualitas tanaman singkong milik petani di Wonogiri, Ja-wa Tengah, merosot. Karena kekurangan air, umbi singkong tidak mampu berkembang maksimal. 

“Namun, kami masih beruntung karena singkong kualitas apa pun masih dihargai tinggi atau stabil, yakni Rp1.200 per kilogram, sehingga kerugian kami tidak terlalu besar,” ujar Mbah Parto, petani dari Desa Gebangharjo.
Dalam kondisi normal, pa-nen singkong di wilayah itu bisa mencapai 18 ton per hektare. Namun, kemarau panjang membuat panen saat ini hanya di kisaran 12 ton per hektare. 

Data Dinas Pertanian Wonogiri mencatat tahun ini 26.415 hektare lahan ditanami singkong, dan panen sudah mencapai 13.655 hektare. Sisanya dipanen Oktober ini. 

Musim tanam mundur
Tahun ini, musim tanam I di sejumlah daerah seharusnya berlangsung mulai Oktober hingga Maret. Namun, karena hujan belum turun, musim tanam dipastikan mundur. 
Di Kebumen, Jawa Tengah, petani seharusnya sudah mendapat suplai air dari Waduk Sempor. Namun, lahan seluas 6.478 hektare itu masih ke-rontang karena volume Waduk Sempor hanya tersisa 1 juta meter kubik dari kapasitas totalnya 46 juta meter kubik. 

“Karena tidak ada hujan, kami belum bisa memastikan kapan dimulainya musim ­tanam I. Kami harus menunggu volume waduk mencapai 25 juta meter kubik,” aku Kepala Dinas Pertanian Tri Haryono. 
Saat sawah belum bisa ditanami, warga di Kabupaten Klaten juga harus menderita karena krisis air bersih. Sebanyak 18 desa terus digelontor air bersih. 

“Sudah 540 tangki atau 2.700 liter air bersih didistribusikan ke desa terdampak. Kekering-an meluas ke enam kecamat-an. Yang terparah ialah wilayah di lereng Gunung Merapi, di antaranya di Kecamatan Ke-malang,” ungkap Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Klaten, Sip Anwar. 

Kemarin, warga dan pejabat di Jawa Timur menggelar salat Istiska di lapangan kantor kepolisian daerah. Dipimpin Kapolda Jatim Inspektur Jenderal Luki Hermawan, mereka memanjatkan doa minta hujan karena kekeringan parah sudah terjadi di sejumlah daerah di Jawa Timur. 

“Ini salah satu ikhtiar kita setelah banyak upaya dilakukan pemerintah untuk menanggulangi bencana kekeringan dan kebakaran hutan di Jawa Timur. Turunnya hujan merupakan keberkahan sehingga bisa menuntaskan kekeringan di daerah ini,” ujar Luki. 

Di Jawa Timur, kekeringan membuat kawasan hutan di sejumlah gunung terbakar, di antaranya Gunung Arjuno, Panderman, Semeru, dan Raung. (WJ/LD/BK/JS/FL/MY/AD/RF/FB/JI/TB/N-2)
 

BERITA TERKAIT