06 October 2019, 10:56 WIB

Puluhan Ribu Orang Berunjuk Rasa Tuntut Kemerdekaan di Skotlandia


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

Andy Buchanan /AFP
 Andy Buchanan /AFP
 Para demonstran pro-kemerdekaan melakukan long march dari Holyrood ke Meadows di Edinburgh, Skotlandia, Sabtu (5/1).

PUKUHAN ribu pendukung untuk kemerdekaan Skotlandia melakukan pawai di Edinburgh, Skotlandia, Sabtu (5/10). Seruan pemungutan suara baru untuk memisahkan diri dari Inggris dengan Brexit dijadwalkan dalam beberapa minggu.

Para demonstran, banyak yang membawa bendera Skotlandia, bertolak dari Holyrood Park di jantung ibu kota Skotlandia.

Beberapa orang meneriakkan, "Apa yang kami inginkan? Kemerdekaan" ketika kerumunan orang mencapai Royal Mile yang terkenal di kota itu.

"Skotlandia adalah kelas dua dalam persatuan ini," kata Peter Johnston, 22, salah satu penyelenggara pawai.

"Sebagai negara yang merdeka, Skotlandia akan menjadi yang terdepan di dunia dalam banyak hal. Dalam Inggris kita tidak mencapai potensi penuh kita."

Di antara mereka yang hadir adalah pengacara dan anggota parlemen Nasionalis Skotlandia (SNP) Joanna Cherry, salah satu figur penting yang berhasil membalikkam keputusan Perdana Menteri Boris Johnson membekukan parlemen.

Dia juga salah satu pendukung utama undang-undang yang disahkan bulan lalu, yang memaksa Johnson untuk meminta Uni Eropa lebih banyak waktu dalam upaya menghindari Brexit tanpa kesepakatan.

"Saya muak dengan aturan Tory," kata peserta Donna Barkley, 47, seorang sopir bus. "Saya muak diberitahu apa yang harus dilakukan ... Kami perlu kemerdekaan hari ini."

Kelompok yang menyelenggarakan pawai pada Sabtu (5/10), All Under One Banner, mengklaim lebih dari 200 ribu orang terlibat dalam aksi itu, jauh melebihi prediksi mereka. Polisi Skotlandia tidak memberikan perkiraan jumlah massa.

Skotlandia memilih menentang kemerdekaan dalam referendum 2014 sebesar 55%.

Tetapi kelompok nasionalis berpendapat referendum Inggris 2016 yang mendukung Brexit berarti referendum kemerdekaan lain diperlukan, karena Skotlandia memilih 62% untuk tetap di Uni Eropa.

Menteri Pertama Skotlandia, Nicola Sturgeon, pemimpin SNP, berpendapat Brexit akan menghancurkan perekonomian.

Kalangan nasionalis juga berpendapat sebagian yang memilih menentang kemerdekaan berpikir itu akan menjamin tempat mereka di dalam Uni Eropa.

"Semua orang sangat tidak senang dengan situasi ini," kata Serena Micalizzi-Coyle, operator tur 50 tahun dalam pawai, mengacu pada Inggris yang akan hengkang dari Uni Eropa.

"Ini adalah hari yang baik untuk menunjukkan bahwa kita bersatu," tambahnya.

Sturgeon, yang menginginkan referendum kemerdekaan kedua pada 2021, tidak dapat menghadiri pawai, tetapi mencuit pesan dukungan.

"Jangan ragu--kemerdekaan akan terwujud," ujarnya dalam pesannya.

Sejumlah kecil pengunjuk rasa pro-Persatuan yang membawa bendera Union Jack menggelar demonstrasi tandingan di Edinburgh pusat. (AFP/OL-09)

BERITA TERKAIT