06 October 2019, 08:45 WIB

Sensasi Idiom


Staf Bahasa Media Indonesia Ahmad Tarmizi | Weekend

MTVN/Mohammad Rizal
 MTVN/Mohammad Rizal
Ilustrasi

DALAM berkomunikasi, acap kali masyarakat berujar dengan bahasa basa-basi. Unik dan menggelitik. Hal ini membuat sensasi dan menunjukkan jati diri.

Komunikasi seperti di atas memang tak pernah habis di negeri ini. Muncul silih berganti. Beda generasi beda sensasi. Bahasa yang baku dipereteli. Kesan bersensasi lebih sering didapati.

Misalnya saja, ungkapan 'lebaran monyet'. Dari dulu hingga sekarang, kita pasti sering mendengar ungkapan ini. Tak jarang ungkapan itu berkeliaran di ruang publik, terutama di kalangan remaja. 'Lebaran monyet' bermakna peristiwa yang mustahil terjadi. Seperti dalam kalimat berikut ini: Sampai lebaran monyet juga lo enggak bakal punya pacar. Artinya, orang itu mustahil punya pacar. Wah, repot juga, ya, kalau sampai mustahil punya pacar.

Selain ungkapan di atas, ada pula ungkapan 'malu-malu kucing' yang menyatakan bahwa seseorang pura-pura enggak mau. Pasti kita semua pernah kan malu-malu kucing? Biasanya, ungkapan-ungkapan ini digunakan generasi milenial untuk lucu-lucuan semata.

Senada dengan ungkapan di atas, rupa-rupanya ada ungkapan yang dapat memuat berbagai persepsi, yakni ungkapan 'tempat jin buang anak'. Ungkapan ini ialah kiasan yang merujuk pada sebuah lokasi yang terpelosok atau terpencil, seperti kawasan Rumpin (Bogor), Ujung Genteng (Sukabumi), dan Jonggol (Bogor). Sebagai contoh ketika saya dan teman-teman tongkrongan saya tengah mengobrol, ada salah satu teman saya bertanya, "Rumah Kak Budi di daerah Parung, kan?" lalu salah seorang dari kami menjawab, "Iya daerah sono, tempat jin buang anak."

Ungkapan seperti itu sudah tidak aneh lagi, bukan? Selalu hadir di ruang publik. Namun, masih ada yang sama sekali belum mengerti apa arti ungkapan itu. Misalnya, beberapa rekan kerja saya yang mengira bahwa 'tempat jin buang anak' ialah tempat yang angker dan berpenghuni kawanan makhluk gaib. Padahal, makna itu bukan sama sekali.

Persoalan pada ungkapan 'tempat jin buang anak' tidak terletak pada makna yang sesungguhnya, tetapi pada ungkapannya. Ungkapan tersebut juga tidak diketahui siapa yang pertama kali mencetuskan hingga sekarang masih kerap dinarasikan.

Bagi milenial, ungkapan seperti ini tentu bersensasi mistis: mengerikan dan sedikit meringis. Secara akal sehat memang ungkapan seperti ini tidak realistis. Buat mereka tentu mistis, tetapi sedikit eksotis.

Akan tetapi, secara kacamata bahasa 'tempat jin buang anak' termasuk idiom yang sedikit sulit dikenali karena tidak sesuai dengan makna dan arti yang mewakili. Kamus Besar Bahasa Indonesia pun rasanya tidak dapat memberi arti yang milenial dapat yakini.

Sebenarnya, ungkapan seperti itu sah-sah saja bila diucapkan untuk lucu-lucuan atau guyonan. Namun, bagi para pendengar yang masih awam akan ungkapan tersebut, pastilah mereka bertanya-tanya dan bisa saja menafsirkan dengan makna yang berbeda. Selain itu, ada kemungkinan masyarakat yang tinggalnya di daerah terpelosok merasa tersinggung jika wilayahnya disebut sebagai tempat jin buang anak.

Karena itu, menurut penulis, untuk menjaga perasaan seseorang yang rumahnya terpelosok lebih baik ungkapan tersebut diganti dengan arti yang sesungguhnya. Bukannya lebih baik, kan?

BERITA TERKAIT