06 October 2019, 03:10 WIB

Jangan Business as Usual


MI | Weekend

MI/Fetry Wuryast
 MI/Fetry Wuryast
William Kwan 

BELASAN tahun bergelut intens dengan batik membuat William Kwan atau Kwan Hwie Liong ikut juga menjadi kolektor. Bagi pria kelahiran Pekalongan, 13 September 1962 ini membeli batik lebih dari sekadar mengeluarkan uang, melainkan juga berarti memberikan kebahagiaan dan harapan panjang umur kepada para pembatik yang rata-rata sudah berusia lanjut tersebut.

“Mbah-mbah yang berusia 80-90 tahun membatiknya tidak karuan karena tangannya yang sudah gemetar. Kainnya misal dijual dengan harga Rp400 ribu, lalu kita beli, dia akan merasa senang. Dengan dia senang kesehatannya membaik, dan umurnya lebih panjang. Itu cukup,” cerita William yang rutin berkeliling ke Rembang, Lasem, dan beberapa daerah sentra batik lainnya.

William mengakui jika batik yang dibuat oleh para pembatik sepuh kerap menjadi dilema. Kualitas goresan motif yang tidak lagi prima sering dilihat orang kurang cantik saat dipakai. Selain itu, dengan mutu yang dianggap tidak bagus, mereka pun enggan membuat batik itu sebagai koleksi. 

Di sisi lain, terus berkaryanya para pembatik sepuh itu juga penting bagi kelestarian motif-motif lama. Terlebih ketika, regenerasi pembatik belum berjalan dengan baik, begitu pula dengan inventaris berbagai motif Nusantara. Dengan begitu, keberadaan motif-motif tersebut masih bergantung pada ingatan para pembatik sepuh.

Dalam koleksinya, William meng­ungkapkan jika karya tertua yang ia punyai ialah buatan pembatik berusia 94 tahun. Usia rata-rata pembatik, menurutnya, di atas 50 tahun. Bahkan, di sejumlah desa, di atas 65 tahun. 

Jumlah pembatik juga tak kalah menyedihkan. Ia mengatakan pembatik motif Djarot Asem, yang sekilas mirip batik Yogyakarta dan Surakarta, tinggal dua orang, sedangkan pembatik Sogan hanya 10-15 orang. “Dan usianya paling muda 65 tahun,” tambah pria peraih Master Ekonomi Pembangunan di Vanderbilt University, Amerika Serikat.

Menyadari kondisi yang ada, pada 2004, William mendirikan Kelompok Usaha Bersama Srikandi Jeruk, di Desa Jeruk, Kecamatan Pancur, Kabupaten Rembang, sebagai upaya revitalisasi batik daerah itu. Lewat kelompok-kelompok seperti itu William juga berusaha membuat jembatan regenerasi pembatik.

Untuk memompa semangat pembatik muda, ia pun membeli karya-karya mereka meski secara kualitas belum baik. “Pada pembatik pemula yang belum tentu bagus hasilnya. Tapi harus diapresiasi, agar mereka bisa semangat membuatnya lagi dan lagi,” ujarnya.

Di sisi lain, ia menyayangkan penekunan batik yang kini ramai di daerah pun masih sekadar euforia dan bukan menjaga keberlangsungan ciri khas, motif, dan pemasarannya. Tidak sedikit pengusaha batik yang bisa memasarkan kain batik hingga ke pameran luar negeri. Namun, bisnisnya tidak berlanjut setelah itu sebab pemahaman menjual dan memahami nilai apa yang bisa dijual dari batiknya belum cukup. Mereka umumnya masih melakukan sekadar business as usual.

Padahal, bisnis berbasis budaya, pada batik bisa diterapkan dengan memastikan bahwa batik itu 100% buatan Indonesia, mulai perkebunan kapas, dipintal sendiri menjadi kain, diwarnai dengan bahan alam sekitar, digambar dengan motif khas daerah sehingga barangnya tidak bisa ditiru siapa pun. 

“Misalnya negara mana mau bikin serupa, itu tetap berbeda karena kapasnya dari dalam negeri Tuban. Saya bilang ini 100% local made, dari kapas, pewarna, dan orangnya yang bikin dan motif dan penggunanya. Kalau penjual batik bisa komplet begini, maka itu benar-benar secara produk luar biasa sekali. Itu yang namanya budaya. Di Indonesia bisnis ekonomi berbasis budaya masih jarang,” pungkas William. (Try/M-1)

BERITA TERKAIT