05 October 2019, 15:14 WIB

Investasi SBN masih Rentan bagi Ekonomi Jangka Panjang


Faustinus Nua | Ekonomi

ANTARA/Aprillio Akbar
 ANTARA/Aprillio Akbar
Petugas menata rupiah di Cash Center Bank Mandiri, Jakarta, Kamis (3/10).  Arus modal asing membuat nilai tukar rupiah stabil.

BERDASARKAN laporan Bank Indonesia (BI), sampai dengan 3 Oktober 2019 tercatat aliran modal asing yang masuk (capital inflow) ke tanah air mencapai Rp192,6 triliun year to date.

Total capital inflow tersebut terdiri dari Rp137,9 triliun untuk SBN, sedangkan untuk saham sebesar Rp52,4 triliun dan sisanya obligasi, korporasi juga SBI.

Aliran modal asing yang terus masuk memang memberi dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini. Di samping itu juga mempengaruhi nilai tukar rupiah yang makin membaik. Akan tetapi, arus modal tersebut dinilai masih rentan dalam menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

"Investasi di financial asset ini rentan (vulnerable) bagi pertumbuhan ekonomi jangka panjang," kata Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Toto Pranoto ketika dihubungi di Jakarta, Sabtu (5/10).

Menurutnya aliran portfolio investasi asing dalam financial asset seperti SBN akan mengikuti pola 'folowing to region that generate high return'. Artinya sepanjang ada prospek pertumbuhan ekonomi, kestabilan ekonomi negara dan sentimen positif lainnya maka investor akan masuk. 

Namun saat muncul kondisi sebaliknya, investor asing pun akan dengan mudah keluar Indonesia dan memindahkan portfolio investasinya ke negara lain.

"Yang dibutuhkan Indonesia adalah lebih banyak menarik investor asing di sektor riil (foreign direct investment/FDI)," kata dia.

Dijelaskannya lebih lanjut, kata Toto, investasi di sektor riil akan lebih menjamin pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Dengan demikian, apabila terjadi permasalahan ekonomi secara global, hal tersebut tidak langsung berdampak pada pertumbuhan ekonomi domestik. 

Namun, diakuinya regulasi yang masih rumit menjadikan Indonesia bukan sebagai negara tujuan utama investasi sektor riil.

"Ini agak problem karena dibandingkan kompetitor di ASEAN (Vietnam, Thailand, Malaysia) maka posisi (penanaman modal langsung) Indonesia saat ini tertinggal di belakang", tambahnya.

Baca juga: Asing masih Tertarik Berinvestasi

Sementara menurut laporan World Bank September 2019, Indonesia tidak menjadi pilihan utama investor asing. Hal itu dipicu  kelemahan terkait regulasi/insentif investasi, ketersediaan infrastruktur industri dan kekurangan suplai SDM trampil.

Adapun aliran dana ke sektor aset-aset finansial (financial asset) saat ini menunjukan masih adanya kepercayaan investor asing atas prospek perekonomian Indonesia. 

"Karakteristik SBN yang risk free mendominasi minat asing karena tingkat suku bunga yang kompetitif dan kepercayaan investor atas prospek dan kestabilan ekonomi negara," tuturnya.

Pengaruh perang dagang AS - Tiongkok juga dinilai berdampak pada sentimen investor. Munurutnya investor akan mencari investasi yang lebih aman dan return yang relatif tinggi. 

"Situasi saat ini menunjukkan Indonesia sebagai emerging market masih dipercaya oleh investor," pungkasnya. (A-4)

BERITA TERKAIT