06 October 2019, 01:35 WIB

Denyut Kehidupan  di Pulau Terluar


Abdillah Marzuqi | Weekend

MI/Abdillah Marzuqi
 MI/Abdillah Marzuqi
Denyut Kehidupan  di Pulau Terluar

“TUNGGU di Jetty ya,” ucap seorang anak kepada temannya. Tidak banyak tempat janjian untuk bertemu di Pulau Kiabu. Pulau sekaligus desa di pelosok itu merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan Siantan Selatan, Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau. Pilihan lokasi untuk bertemu memang sedikit. Tidak banyak lokasi yang bisa mereka jadikan tempat janjian. Kalau tidak di halaman sekolah, pastilah di dermaga.

Untuk mencapai pulau yang berdekatan dengan perairan sengketa Natuna itu bukan hal mudah. Jika menggunakan moda udara, bandara paling dekat ada di Pulau Jemaja. Itu pun masih membutuhkan 4 jam menumpang kapal motor ke Pulau Kiabu. Perjalanan itu bisa dihemat jika naik kapal cepat, sekitar 2 jam perjalanan. Tentu saja dengan mengandaikan laut sedang baik, dan ombak tidak sedang marah. Sampai di Pulau Kiabu, dermaga itulah pula yang akan menyambut.

Sebelum menginjak dermaga, Pulau Kiabu akan tampak seperti gunung kecil hijau yang menyembul dari balik laut. Rupanya hutan di desa itu tetap terjaga. Itulah rahasia warga Kiabu masih bisa merasakan air tawar. Biar pun musim kemarau, mereka tidak kekurangan air.

Anak-anak Pulau Kiabu biasanya menghabiskan sore untuk bermain di dermaga. Wajah mereka ceria saat terjun. Mereka berenang di air laut yang masih terlihat bening. Biasanya mereka berloncatan dari atas dermaga. Berulang-ulang hingga matahari terbenam dan mereka pun pulang ke rumah.

Dermaga itu hanya berupa kayu-kayu papan yang disusun menjadi jalan. Lebarnya sekira 2,5 meter dengan topangan balok cor yang ditancapkan dalam air. Dermaga itu layaknya jalan tol bagi warga Kiabu. Mereka biasanya melewat dermaga itu untuk memotong jarak.

Selain menjadi denyut kehidupan warga Kiabu, mereka menggantungkan mobilitas di dermaga itu. Ada sedikit bagian dermaga yang punya atap. Cukup­lah untuk sekadar berteduh dari panas dan hujan. Tambatan perahu tangkap ikan kecil menjadi pemandangan yang akrab. Bisanya sore menjelang malam, para nelayan baru pulang dari mencari ikan. Tiba di dermaga, ikan-ikan itu langsung ditunggu pembeli.

Selama beberapa hari, Media Indonesia berkesempatan mengunjungi Pulau Kiabu atas undangan Capak dan Bawah Anambas Foundation. Menikmati suasana tenang di pulau, kadang sempat pula bermain, dan berenang bersama anak-anak pulau.


Pulau Bawah

Tidak seberapa jauh dari Pulau Kiabu, terdapat Pulau Bawah. Hanya 2 jam dari Pulau Kiabu jika menggunakan kapal cepat. Pulau itu menjadi tujuan wisata premium untuk merasakan indahnya panorama Anambas. Pulau Bawah dikelola dengan prinsip keberlanjutan yang ketat di bawah bendera Bawah Reserve.

Saat berkunjung ke Pulau Bawah, kedatangan kami langsung disambut dengan deru mesin pesawat yang tengah mendarat. Memang jalur paling ringkas secara waktu ialah jalur udara dengan pesawat amfibi milik Bawah Reserve. Kala itu sedang ada kunjungan wisatawan yang ingin menikmati Pulau Bawah.

Saya lalu berkeliling pulau dengan jalan kaki. Tidak ada kesan bahwa itu ialah pulau wisata. Pohonan yang masih asri dengan udara sejuk menjadikan nuansa dan suasana pulau itu lebih mirip hutan. Bedanya, di sini tidak perlu menerobos semak untuk lewat, sudah ada trek tersendiri.

Ada cerita latar mengapa nuansa itu bisa bertahan meski pulau itu dijadikan destinasi wisata. Sejak mula pencanang­an, Bawah Reserve tidak mengizinkan sekalipun untuk mengubah bentang alam. Pembangunan kamar tamu maupun fasilitas lain, diharuskan mengikuti bentuk asal lanskap perbukitan.

Itulah sebabnya, masih banyak banyak ditemukan pohon besar di Bawah Reserve karena ada sekitar 576 pohon dengan ketebalan lebih dari 30 cm. Otomatis berwisata di Pulau Bawah berasa mendapat wisata laut sekaligus wisata gunung.
Cukup lama untuk membuat Bawah Reserve siap beroperasi, karena proses pembangunan tidak menggunakan alat berat. Semua dikerjakan secara manual dengan peralatan yang tidak merusak alam.

Ekodesain benar-benar dianut di Bawah Reserve, dari mulai pasokan energi, pengolahan sampah dan limbah, hingga penyediaan bahan makanan. Penduduk pulau-pulau lain yang berada di sekitar pun terkena imbas positifnya. Mereka diberdayakan untuk menyuplai bahan makanan hasil pertanian organik.

Pulau Bawah layak disebut resort cantik dengan kelilingan pantai indah. Kepulauan Anambas memang terkenal dengan keindahan alam laut. Pantai indah dengan hamparan pasir yang bersih. 

Sayangnya, tidak demikian dengan kondisi bawah laut, banyak panorama bawah laut yang telah rusak akibat praktik penangkapan ikan yang tidak berkelanjutan. Meski saat ini sudah berkurang, masih saja ditemukan nelayan yang menangkap ikan dengan racun dan bom ikan.

Padahal Kepulauan Anambas terkenal dengan ikan Napoleon, yang kini terancam punah. Ikan karang itu bisa mencapai ukuran panjang 2 m dan berat 190 kg. Ikan napoleon merupakan jenis ikan karang yang mempunyai daya tarik bagi para penyelam untuk menikmati wisata alam bawah laut. Banyak wisatawan yang datang ke Anambas hanya untuk ikan napoleon. Semoga saja di masa mendatang, si bibir tebal itu tak menjadi tinggal kenangan. (M-2)
 

BERITA TERKAIT