06 October 2019, 01:10 WIB

Jejak Arswendo Atmowiloto dalam Komik Indonesia


MI | Weekend

MI/Suryani Wandari Putr
 MI/Suryani Wandari Putr
Jejak Arswendo Atmowiloto dalam Komik Indonesia

POTONGAN-POTONGAN gambar komik asli zaman dulu, artefak penerbitan, pelat cetak komik, serta terbitan asli komik itu terpampang di dinding. Selain itu juga, ada instalasi adegan komik ikonik dalam cergam Indonesia dilukis menggunakan cat hitam di dinding putih. Bukan untuk sekadar latar swafoto, media ini menjadi bahan telaah bagi beberapa orang termasuk arsip yang ada di atas meja etalase. 

Mari kita bercerita almarhum Arswendo Atmowiloto, sang novelis, penulis skenario, produser, dan pemerhati budaya. Pameran kali ini tidak sekadar gambar hasil coretan tangan yang menarik perhatian pengunjung, tetapi juga sejarah perjalanan komik Indonesia yang belum banyak orang dan berkaitan dengannya. 

Arswendo, bahkan bisa dinobatkan sebagai pelopor studi budaya populer Indonesia karena telah menelaah berbagai segi budaya pop Indonesia dari sudut nonakademik. Ia punya peran besar dalam dunia perkomikan Indonesia sejak 1970-an. “Saat itu stigma terhadap komik buruk sekali, banyak yang menganggap komik itu kebarat-baratan hingga tak cocok dengan Indonesia karena dianggap racun budaya,” kata Hikmat Darmawan, Kurator Pameran Komik itu Baik saat konferensi pers, Sabtu (28/9) di Dia.lo.gue Artspace, Kemang, Jakarta.

Pameran yang berlangsung mulai 28 September sampai 20 Oktober 2019 di Dia.lo.gue Artspace ini memang ditujukan untuk mengenang Arswendo karena dirinya dinilai berani mematahkan stigma tersebut dengan menerbitkan seri tulisan bertajuk Komik itu Baik pada 10-15 Agustus 1979 di Harian Kompas. Tulisannya, bahkan berlanjut hingga 1981 yang membuka mata banyak orang tentang betapa kaya khazanah komik Indonesia yang biasa disebut cergam.


Mengantarkan Seno 

Seri tulisan Arswendo ini juga yang mengilhami sebuah komik dan seminar di Yogyakarta pada 1981, yang diklaim pertama hadir di Indonesia oleh sang inisiator sastrawan Seno Gumira Ajidarma. “Sosok Arswendo memengaruhi cara pandang saya terhadap komik. Hingga pada Juli 2005 saya mempertahankan disertasi mengenai komik Panji Tengkorak karya Hans Djaladara,” kata Seno yang kemudian menjadi doktor pertama bidang komik di Indonesia. 

Pameran bertajuk Komik itu Baik, Cergam 1924-2019, Tribute untuk Arswendo Atmowiloto ini berbasis arsip yang menceritakan awal penyusunan pendalaman sejarah cergam Indonesia. Ceritanya lebih terstruktur dengan memboyong sejumlah arsip cergam yang pernah dipamerkan di Brussels, Equatorial Ima­gina­tion, Indonesia Comics 1924-2017 pada 21 November 2017-21 Januari 2018 sebagai bagian dari rangkaian acara Europalia Indonesia yang merupakan hasil kerja sama antara lembaga, budaya Europalia, pemerintah Indonesia dan pemerintahan Belgia. 

Dalam pameran ini memang secara gamblang mengungkapkan historiografi komik, yang dilakukan Iwan Gunawan, dosen pascasarjana IKJ dan pengampu Pusat Kajian Narasi Visual IKJ. Fase Kepopuleran Komik sebenarnya terjadi sejak 1925-1953 yang saat itu diawali komik setrip dengan karakter ikonik bernama Kromo yang diterbitkan D’Orient, sebuah majalah populer di Hindia Belanda. Telaah arsip juga menemukan komik setrip So Po edisi 1929 telah mengubah nama serinya menjadi Sie Swee Siawo.

Dari sinilah kmudian bermunculan lebih banyak komik setrip yang diterbitkan majalan ataupun koran harian sehingga industri cergam ini membuat inovasi formasi baru yang dilakukan penerbit Melodi di Bandung melalui komiknya berjudul Sri Asih karya RA Kosasih dan Putri Bintang karya John Le. Kedua komik ini sebenarnya menjawab protes keras yang menyerukan pelarangan komik di Indonesia. Saat itu komik sebagai hiburan visual baru dinilai produk baru yang terlalu kebaratan.

Tak hanya itu, komik pun kian berinovasi dengan membentuk tradisi visual modern baru, yakni komik wayang. Genrenya cukup sukses dan jadi salah satu genre yang bertahan dalam perkomikan Indonesia hingga kini dengan menyesuaikan dinamika sosial politik dan perubahan sosiokultural di Indonesia. (Wan/M-4)

BERITA TERKAIT