06 October 2019, 00:55 WIB

Narasi Perdamaian Tiga Babak


Galih Agus Saputra | Weekend

MI/Galih Agus Saputra
 MI/Galih Agus Saputra
Pementasan Peace dari Teater Mandiri.

KERIBUTAN terjadi di atas panggung. Puluhan orang terlihat beringas memburu dan menarik tali panjang yang mengikat pada tubuh seseorang. Lelaki itu diamuk massa tanpa alasan. Dia pun terus mengelak tanpa memperhatikan siapa saja yang mengejarnya secara membabi buta.

Sementara itu, seorang lelaki tua renta masuk melalui sisi kiri panggung. Ia datang menggunakan kursi roda bersama asisten di belakangnya. 

“Aku ingin makan daging manusia,” begitulah teriaknya dengan suara serak dan terbata-bata. Dia mengaku sudah hampir kehilangan rasa kemanusiaan dan belas kasihnya.

Lelaki tua tersebut ialah Putu Wijaya. Pada kesempatan ini, ia turut tampil sebagai pe­me­ran dalam pertunjukan Peace yang dibawakan Teater Mandiri, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (25/9). Tidak hanya itu, Putu juga yang menulis naskah pementasan teater tersebut, yakni ia mengangkat Peace menjadi sebuah tontonan yang diharapkan dapat menjadi dasar kemandirian, yang di satu sisi mencerminkan sifat individual dan di sisi lain juga mewakili sifat sosial.

“Dua hal itu sering bertentangan dan berkonflik. Tetapi, kalau kita renungkan, kemandirian itu membuat kita sadar bahwa kita memiliki sesuatu yang melekat pada diri kita. Jadi, konflik itu sebenarnya adalah sebuah ketegangan batin kita yang menyebabkan kita berpikir dan berjalan ke depan. Artinya, masalah-masalah itu adalah dinamika kehidupan selayaknya kita mengendarai sepeda,” tuturnya.

Menurut Putu, belakangan ini barangkali banyak orang yang menganggap kebinekaan ialah sesuatu yang menakutkan. Namun, justru dari kebinekaan itulah akar yang menjadi kekuatan sekaligus yang memperkuat sendi bangsa berasal. 

Memang pada kenyataannya, banyak orang yang mencoba menceraiberaikan persatuan dan gotong royong yang dibangun secara bersama-sama, tetapi justru itulah yang sesungguhnya menjadi ujian bersama sehingga bangsa Indonesia semakin siap dalam menghadapi tantangan yang bisa datang kapan saja.


Perempuan dan perdamaian

Peace disuguhkan sebagai tontonan yang terdiri atas tiga babak. Ia menjadi refleksi kondisi sosial dan individual hari ini, yang mana diawali dengan bingkai perlakuan tidak adil terhadap kaum perempuan. Menurut Putu, perempuan memerlukan keseimbangan yang bersifat mendesak di dalam tatanan masyarakat yang luas. Hal itu perlu dilakukan agar kehidupan berjalan harmonis sekaligus memberikan ruang dan kesempatan yang lebih pantas, serta berimbang kepada perempuan sesuai dengan kemampuan atau bukan berdasarkan jenis kelamin.

Narasi itu kemudian diwakilkan dengan penampilan Jais Darga. Ia muncul dengan baju merah dan membawakan monolog sekaligus adegan penolakan terhadap berbagai macam simbol kekerasan. Selain itu, Jais juga menolak kesewenang-wenangan, sedangkan kepahitan menjadi bagian dari metaforanya tentang kebatilan.


Nonkekerasan

Putu Wijaya boleh dibilang sebagai salah seorang seniman dengan keputusan artistik yang cukup menarik. Dalam pementasan Peace kali ini, ia tampak memproyeksikan kisah dengan gayanya yang surealis. Menurut Putu, surealis ialah suatu hal yang hidup di atas daratan. Ia cocok dengan kebinekaan dan untuk berbicara sesuatu yang materiel atau konkret itu kadang-kadang memang perlu sedikit diapungkan agar terlihat seperti dongeng.

Dongeng, lanjut Putu, dapat dinikmati semua orang layaknya dagelan. Ketika orang ketawa, ia bahkan dapat menerima sindiran dan secara artistik hal tersebut dianggap Putu sebagai pendekatan lunak (soft). Berbeda halnya dengan memaki-maki orang secara langsung, surealis yang membuat kisah tampak seperti dongeng punya kekuatan yang dapat memudahkan orang untuk menangkap cerita. Ia dapat mewujud dalam sebuah cerita yang tidak berbicara tentang kejadian apa-apa atau siapa-siapa, tetapi ia memiliki pesan moral.

“Salah satu contoh, dalam cerita ini, misalnya, kalau orang besar menangis, sepertinya ia tidak perlu meminta pertolongan ke siapa-siapa. Anggap saja ia dapat melihat persoalan yang tidak dilihat oleh orang lain, misalnya, masalah ancaman, kekerasan, dan bencana. Hukum itu sendiri adalah instrumen mati, yang hidup adalah orangnya. Saya tidak berbicara tentang hukum hari ini, hukum kemarin, atau hukum di masa lampau, tetapi hukum secara umum agar saya tidak tersandung oleh kepercayaan, etnik, atau agama apa pun sehingga dapat berbicara kepada semua orang karena akar kita sama, yaitu Indonesia,” tuturnya. (M-4)

BERITA TERKAIT