04 October 2019, 22:00 WIB

Masyarakat Didorong Ikut Manfaatkan Teknologi


Irvan Sihombing | Teknologi

Dok. Kagama
 Dok. Kagama
VP Corporate Affairs GoJek Michael Reza Say

VP of Corporate Affairs Gojek Michael Reza Say mengatakan, banyak masyarakat yang masih menolak kehadiran teknologi karena tidak bisa menggunakannya dengan baik.

Dia mencontohkan Gojek lahir sebab berkembangnya teknologi dan adanya masalah sosial di Jakarta pada 2010.

Saat itu Founder Gojek Nadiem Makariem melihat mobilitas di perkotaan semakin padat, kurangnya ketersediaan lapangan pekerjaan, dan keterbatasan akses di sektor informal.

Nadiem, melalui garasi sewaan di Jalan Kerinci, Jakarta, membuat platform untuk mengakomodasi para tukang ojek agar ada solusi untuk inefisiensi dan keterbatasan akses tersebut.

“Tahun 2015 ternyata hampir 80% dari orang yang antar barang, adalah makanan. Ada peluang. Lalu kita kembangkan Go Food di 2016. Sebelumnya kami hanya punya tiga layanan; Goride, Gosend dan Gomart,” ungkapnya dalam keterangan pers yang diterima Media Indonesia, Jumat (4/10).

Gojek, kata Michale, selalu melihat perkembangan. Pada 2016-2017 tren di Indonesia adalah pembayaran.

Hal tersebut dilihatnya sebagai peluang, Gojek lantas meluncurkan fitur Gopay. "Saat itu kita sudah jadi unicorn. Dan sekarang mejadi kebanggaan Indonesia karena kita juga beroperasi di luar negeri,” ujarnya.

Michael menilai, banyak orang yang menolak kehadiran teknologi karena kurang memanfaatkannya dengan baik.

 

Baca Juga:  PUBG Mobile Gelar Ajang Khusus Ajak Gamers ke PMCO

 

Dia mencontohkan Bu Nanik, salah satu mitra Gojek yang menyediakan makanan olahan pisang. Sebelum bermitra dengan Gojek, Bu Nanik hanya mampu menjual 100 an pisang per hari.

“Dengan Gojek, sekarang Bu Nanik bisa menjual pisang ribuan. Omsetnya miliaran. Terakhir kemarin ketemu, anaknya dikuliahkan di UK,” kata Michael.

Di Medan, kata Michael, Gojek juga memberi dampak signifikan terhadap sektor ekonomi. Pada 2018 tercatat Gojek telah berkontribusi sebanyak Rp1,8 triliun.

Senada dengan Michael, Imam Wahyudi, jurnalis dan pengamat millenial mengatakan inovasi dibutuhkan dalam menghadapi era revolusi industri 4.0.

Namun demikian, dia mengajak masyarakat untuk tidak sekadar melihat aspek perkembangan manufaktur dan pertumbuhan ekonomi.

Alumus FISIPOL UGM itu mengajak masyarakat untuk melihat aspek perubahan gaya hidup yang terjadi akibat pesatnya perkembangan teknologi.

“Pengguna medsos aktif di Indonesia sebanyak 130 juta jiwa. Selain millenial, penggunanya juga generasi kolonial (tua). Gaya hidup kita berubah, apa-apa internet. Dan nanti apa yang akan kita lakukan?” tanya Imam.

Imam mengajak masyarakat untuk siap dengan teknologi. Infrastruktur teknologi yang telah disiapkan pemerintah, kata Imam, jangan hanya dimanfaatkan untuk kegiatan konsumtif.

Misalnya, saat ini di Indonesia terdapat 400 palapa ring yang menghubungkan antar daerah dengan koneksi internet.

Imam mengajak masyarakat untuk melihat hal tersebut sebagai peluang. "Jangan sampai kita hanya menjadi penonton. Kita musti ikut andil atas apa yang telah dibangun pemerintah,” tegasnya.

Dia mengajak masyarakat untuk melihat potensi diri meliputi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman.

Yang terpenting, kata Imam, konsep-konsep yang sederhana segera diwujudkan, seperti yang telah dilakukan Gojek dalam mengawali sejarahnya. "Pada 2030 ada 130 juta jiwa usia produktif. Jangan sampai kita hanya menjadi penonton,” tandasnya.

Michael Reza Say hadir dalam sebuah seminar yang merupakan rangkaian Millenial Fest Industri 4.0 yang digelar pada tanggal 3-5 Oktober 2015 di Ballroom Hotel Adimulia, Kota Medan. Seminar diselenggarakan untuk menyambut Munas XIII KAGAMA yg diselenggarakan pada 14-17 November di Bali. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT