05 October 2019, 12:00 WIB

Menangkap Ikan Lebih Banyak Dengan Lampu Pijar


Rendy Ferdiansyah | Nusantara

Mi/Rendy Ferdiansyah
 Mi/Rendy Ferdiansyah
Para nelayan memanen ikan hasil dari memancing dengan menggunakan lampu pijar.

DARIM, 49 bergegas menyalakan genset yang ada di pondokan. Ia kemudian menyalakan saklar listrik. Kemudian dia menyalakan  13 lampu sentral yang diarahkan dari pondokan ke tepi laut. Darim kemudian mengecek permukaan air laut di sekitar pondokan. Ia bisa melihat di sana terkumpul ikan-ikan dan cumi-cumi. Ia kemudian mematikan lampu-lampu pijar.

Di luar pondok, rekannya Wakraf, Angga, dan Erwin sudah menunggu untuk siap-siap mengambil ikan-ikan itu dengan jaring. Mereka kemudian mengangkat jaring yang sudah ditebar di laut dan ditarik dengan menggulung tuas tali. Mereka sudah biasa mencari ikan dengan menggunakan bagan Apung di perairan Rebu Kabupaten Bangka, berjarak kurang lebih 10 mil dari bibir pantai.

"Setiap hari kami berangkat dengan perahu tempel sekitar pukul 15.00 WIB. Lama perjalanan dari pesisir pantai 30 menit," kata Darim. Kamis (4/10).

Biasanya setelah tiba di Bagan Apung berukuran 12 meter x 12 meter, mereka memancing. Saat mulai gelap, berempat memasang jaring di bawah bagan dengan kedalaman 15-20 meter. Kemudian lampu-lampu pijar dinyalakan. Ada 28 lampu pijar dengan rincian, 13 lampu di dalam pondok dan sisanya dipasang di perairan.

"Lampu-lampu inilah yang membuat ikan tertarik untuk mendekat dan berkumpul. Sehingga memudahkan kami mendapatkan ikan," terang Darim.

Setiap dua jam sekali mereka mengangkat jaring yang sudah berisi ikan. Dan ikan yang diperoleh juga bermacam-macam. Kalau cuaca bagus sekali angkat bisa memenuhi 10 ember. Namun pas musim paceklik, perolehan ikan hanya cukup untuk satu ember.

Darim menjelaskan untuk membuat satu bagan apung setidaknya butuh Rp50 an juta belum termasuk perahu dan mesinya.

"Total biayanya bisa habis Rp80 juta. Itu pun perahu dan mesinya bekas 40 PK," aku dia.

Sedangkan biaya untuk melaut, termasuk makan, minum, BBM sekitar Rp400 ribu hingga Rp500 ribu. Itu ditanggung berempat.

baca juga: Lima PLTS Siap Menerangi Desa-Desa di NTT

Rata-rata pendapatan sehari dari berjualan ikan mencapai Rp2 juta dan dibagi berempat. Saat ini ada belasan bagan apung di perairan Rebu. Bagan itu pun bisa dipindah-pindah. Memancing ikan dengan lampu pijar lebih ramah lingkungan daripada dengan kapal trawl atau bom ikan. Sebagai perantau dari Jawa, Darim dan rekan-rekannya sudah menjadi nelayan sejak kecil. Bahkan mereka juga pernah ikut nelayan lain yang menangkap dengan cara mengebom.

"Saya kapok melakukan bom ikan karena dua jari tangan saya rusak," ungkapnya. (OL-3)

 

BERITA TERKAIT