05 October 2019, 08:20 WIB

Mengulang Dongeng Indah sang Rubah


Suryopratomo Dewan Redaksi Media GroupĀ  | Sepak Bola

MI/Seno
 MI/Seno
Suryopratomo Dewan Redaksi Media GroupĀ 

KETIKA Leicester City memenangi Liga Premier 2016, tidak seorang pun menduga dongeng indah itu bisa terjadi.

Perusahaan taruhan Ladbrokes dan William Hill sampai harus membayar 25 juta poundsterling atau sekitar Rp425 miliar karena menetapkan taruhan 5.000:1 untuk mereka yang berani menjadikan 'Tim Rubah' sebagai juara Liga Inggris.

Executive Chairman Football Association Richard Scudamore bahkan menyatakan, "Peristiwa seperti ini hanya bisa terjadi setiap 5.000 tahun sekali. Karena itu, kita harus menunggu 5.000 tahun lagi untuk bisa melihat peristiwa yang sama."

Seperti umumnya sebuah dongeng, keindahannya cepat berlalu. Kegemilangan yang dibuat Leicester berubah menjadi keporak-porandaan. Dimulai dari berpindahnya para pemain utama mereka ke klub-klub besar. Gelandang asal Prancis N'Golo Kante dan Daniel Noel Drinkwater diboyong oleh The Blues Chelsea. Riyad Karim Mahrez dibawa ke Manchester City.

Namun, yang paling membuat Leicester terhuyung ialah 'pemberontakan' para pemain terhadap pelatih Claudio Ranieri. Pelatih asal Italia itu dipecat setelah para pemain bertemu pemilik Leicester, Vichai Srivaddhanaprabha, tanpa sepengetahuan Ranieri.

Mantan ujung tombak Inggris Gary Lineker menyebut kejadian itu sebagai sesuatu yang sangat menyedihkan dan tidak bisa dimengerti. Pelatih asal Portugal Jos Mourinho menyalahkan tindakan para pemain yang disebutnya sebagai selfish.

Setelah itu 'Sang Rubah' tidak hanya gonta-ganti pelatih, tetapi juga prestasinya tidak pernah cemerlang. Leicester beruntung tidak sampai terdegradasi dan membuat mereka harus kembali berjuang di kasta bawah.

Brendan Rodgers menjadi pelatih ketiga yang dipercaya menggantikan Ranieri. Setelah musim lalu mampu memimpin Leicester bertengger di posisi sembilan Liga Premier, mantan pelatih Liverpool itu berupaya membangun kembali dongeng indah 'Sang Rubah'.

                        

Pelatih terbaik

Mantan kapten kesebelasan Inggris, Steven Gerrard, menyebut Rodgers sebagai pelatih terbaik yang pernah ia temui. Kekuatan pelatih asal Irlandia Utara itu terletak pada kemampuan komunikasi personal dengan pemain.

Gerrad sangat merasakan bagaimana Rodgers menjadikan dirinya. Ia mampu memotivasi pemain mengenal kemampuan dirinya dan menampilkan di lapangan sebagai satu kesatuan tim.

Saat menangani Liverpool, Rodgers tidak pernah kesulitan mengubah permainan tim. The Reds mudah saja mengubah pola permainan dari formasi 4-5-1 menjadi 3-5-2 bahkan menjadi 4-4-2 atau 4-3-3 atau formasi berlian karena semua pemain paham dengan apa yang kemudian harus mereka lakukan di lapangan.

Sentuhan personal Rodgers kini dirasakan para pemain Leicester. Tim 'Rubah' bercokol di posisi ketiga di bawah Liverpool dan Manchester City karena membukukan 4 kemenangan, 2 seri, dan sekali kalah dalam tujuh pertandingan pertama musim ini.

"Tidak ada kata puas atau santai dari pelatih. Bahkan setelah menang 5-0 dari Newcastle, kami berlatih semakin keras," ujar bek kiri Ben Chilwell.

Bek nasional Inggris 22 tahun itu mengaku senang dengan cara melatih Rodgers. Prestasi gemilang di awal musim merupakan buah latihan keras yang selalu ditanamkan pelatih.

"Jujur kami sangat exciting. Semua orang termasuk seluruh staf sangat gembira dan menikmati latihan karena pelatih bisa menjelaskan hal apa yang perlu kami terus perbaiki agar bisa menjadi kesebelasan yang hebat," tambah Chilwell.

Atas dasar itulah, ia sangat percaya diri untuk bertandang ke Anfield dan menghadapi pimpinan klasemen, Liverpool, Sabtu malam.

"Ini kesempatan bagi kami bisa bermain di stadion yang sangat terkenal dan menghadapi tim terbaik di negeri ini. Kami akan berusaha menampilkan yang terbaik dan meraih kemenangan," jelas bek kiri muda itu.

Gelandang menyerang James Maddison sangat bersemangat untuk bisa diturunkan saat menghadapi Liverpool. Maddison harus duduk di bangku cadangan saat timnya menang telak atas Newcastle karena cedera engkel.

"Jujur saya ingin bisa bermain saat menghadapi Li verpool di Merseyside nanti," kata Maddison yang juga berharap dilirik Pelatih Inggris Gareth Southgate untuk tampil menghadapi Republik Ceko di penyisihan Piala Eropa 2020, 12 Oktober.

 

Pilihan Terbaik

Rodgers berharap untuk bisa menurunkan tim terbaik yang dimiliki saat menghadapi bekas klub asuhannya. Maddison merupakan salah satu yang ia sangat andalkan untuk bisa mematahkan prestasi gemilang Liverpool yang belum terkalahkan di Liga Premier 2019/2020 ini.

Saat menghadapi Tottenham Hotspurs, Maddison tampil sebagai pahlawan tim. Ia mampu membawa Sang Rubah membalikkan keadaan dan meraih kemenangan penting 2-1 atas finalis Liga Champions musim lalu.

Dengan kehadiran Maddison, Rodgers akan lebih bisa menjaga keseimbangan tim. Gelandang muda berusia 22 tahun itu akan menjadi se cond striker di belakang Jamie Vardy saat keluar menyerang. Sebaliknya saat tertekan, Maddison bisa membantu Youri Tielemans dan dua gelandang sayap Harvey Barnes dan Ayo ze Perez untuk bertarung melawan trio Jordan Henderson-Fabinho-Georginio Wijnaldum di lapangan tengah.

Leicester sangat berharap kepada gelandang bertahan Wilfred Ndidi untuk menjaga kedalaman tim. Pemain asal Nigeria berusia 22 tahun ini tampil gemilang saat menghadapi Newcastle dan bahkan mampu menyumbangkan satu gol pamungkas. Ia bertugas sebagai breaker di depan dua center-back Jonny Evans dan Caglar Soyuncu.

Ketangguhan Kiper Kasper Schmeichel membuat Leices ter pantas untuk lebih percaya diri. Apalagi mereka mempunyai empat pemain belakang yang bukan hanya disiplin dalam bertahan, tetapi mempunyai bek kanan asal Portugal Ricardo Pereira yang agresif dan mampu mengoyak gawang lawan.

Center-back Liverpool Virgil Van Dijk tidak mau memandang sebelah mata tim muda Leicester yang akan bertandang ke Anfield. Kemenangan 4-3 atas Red Bull Salzburg di Liga Champions menunjukkan masih ada kelemahan menganga sampai timnya harus kebobolan tiga gol.

"Kami harus cepat memperbaiki kelemahan di belakang. Kami tidak boleh membuat lagi kesalahan saat menghadapi Leicester nanti," ujar Van Dijk.

Pelatih Liverpool Juergen Klopp melihat pertandingan Sabtu besok tidak mudah karena hanya ada tiga hari waktu istirahat, sementara para pemain Leicester bisa duduk-duduk di sofa untuk mengamati permainan tim asuhannya.

"Kalau pertahanan kami seperti melawan Salzburg, saya yakin Brendan Rodgers berpikir bahwa Jamie Vardy akan bisa lima kali berhadapan langsung kiper saya. Tetapi saya percaya pemain Liverpool cepat belajar dan akan menampilkan karakter kami yang sesungguhnya saat menghadapi Leicester nanti," ujar Klopp yakin.

 

BERITA TERKAIT