05 October 2019, 09:34 WIB

BNPB Gelontorkan Rp2,5 Triliun Untuk Penanganan Karhutla


Siswantini Suryandari | Nusantara

Antara
 Antara
Ilustrasi 

DALAM penanggulangan karhutla di lima provinsi, BNPB menggelontorkan dana Rp2,5 triliun.

"Ini hanya untuk karhutla. Untuk biaya Teknologi Modifikasi Cuaca atau hujan buatan Rp30 miliar. Itu pun belum lunas. Kemudian sewa heli water bombing Rp1 triliun. Lainnya untuk kesehatan, dan sebagainya. Total sekitar Rp2,5 triliun," kata Kepala Pusdatin BNPB, Agus Wibowo dalam acara kerja sama BPPT-BMKG pengembangan Teknologi Modifikasi Cuaca berbasis kecerdasan buatan, di Jakarta, Jumat (4/10).

"Itu dana siap pakai dari BNPB untuk karhutla. Saat ini dana siap pakai ada Rp3 triliun sudah dipakai untuk karhutla cukup besar. Padahal masih banyak peristiwa bencana di daerah. Seperti gempa Maluku, kami belum hitung," tambahnya.

Agus mengakui kerugian karhutla hingga kini belum dihitung. Namun dari hitungan guru besar ITB Bambang Hero, kerugian lingkungan mencapai Rp130 triliun. Hal itu belum termasuk masalah kesehatan dan kerugian nonmaterial lainnya.

"Kami juga sudah memikirkan bagaimana upaya permanen mencegah karhutla ini. Selain bekerja sama dengan BPPT, BMKG, dan penegakan hukum KLHK, juga sejumlah lembaga lain. Termasuk TNI dan Polri," tambahnya.

Untuk mencegah karhutla saat ini 1000 personel TNI dan 500 polisi diturunkan untuk sosialisasi mengembalikan gambut tetap basah. Para aparat ini tidur di rumah-rumah warga sambil sosialisasi kepada masyarakat bagaimana mencegah karhutla.

"Ini salah satu upaya permanen mencegah karhutla," sambungnya.

Kepala BBTMC BPPT, Tri Handoko Seto menambahkan dalam pencegahan karhutla gambut di Sumatra dan Kalimantan sebetulnya gampang. Menurutnya pengontrolan ketat kondisi lahan gambut dengan memonitoring kadar airnya.

"Tiap hari ada monitoring rata-rata air di lahan gambut. Dari hasil monitoring selama kemarau, rata-rata air terus menurun. Sementara BMKG sudah mengumumkan bahwa akan ada el Nino. Ada prediksi pada bulan depan tidak ada hujan. Laporan-laporan seperti ini harusnya segera direspons oleh daerah. Apa yang akan dilakukan oleh pengambil keputusan dalam mencegah karhutla. Hal itu juga berlaku untuk pencegahan banjir," kata Seto.

Apalagi BMKG selalu mengeluarkan prakiraan musim kemarau setiap April dan diupdate monitoring kemarau setiap bulannya. Bahkan faktor-faktor pemicu terjadinya gangguan iklim di Indonesia juga disertakan.

"Ada tiga hal yang mengganggu iklim di Indonesia. Yakni pengaruh suhu di Samudra Hindia, Pasifik, dan suhu di wilayah Indonesia. Nah kondisi cuaca ini terus diupdate dan dikirim ke daerah-daerah untuk mewaspadai terjadinya anomali cuaca," kata Deputi BMKG Bidang Klimatologi, Herizal.

baca juga: Tim SAR Gabungan Baru Evakuasi 10 Pendaki di Gunung Raung

Dengan adanya big data berasal dari berbagai sumber ini, seharusnya diolah menjadi sebuah solusi pencegahan karhutla. Selama operasi TMC yang dilakukan serentak 17 September 2019 di Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah dan telah terjadi hujan merata dan membantu membasahi lahan dan memadamkan api. Lebih dari 3 miliar m3 volume hujan telah turun di seluruh daerah operasi TMC. Operasi TMC akan berakhir pada akhir Oktober. (OL-3)

 

 

BERITA TERKAIT