05 October 2019, 02:30 WIB

Lahan Terbakar Berkurang, Pemerintah Harus Tetap Waspada


Desi Yasmini | Humaniora

Sumber: GEC/asmc.asean.org/stanford.edu/wri.org/AFP
 Sumber: GEC/asmc.asean.org/stanford.edu/wri.org/AFP
Kebakaran lahan gambut di Indonesia.

BERDASARKAN hasil pemantauan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), jumlah kejadian karhutla menunjukkan penurunan jumlah titik panas selama seminggu terakhir.

Di Jambi, jumlah titik panas pada pekan pertama Oktober 2019 sebanyak 58 titik panas. Angka itu jauh menurun jika dibandingkan dengan jumlah titik panas pada pekan ketiga September 2019, yaitu sebanyak 700 titik panas.

Di Kalimantan Tengah, dari 1.127 titik panas pada pekan ketiga September 2019 menjadi 56 titik panas pada pekan pertama Oktober 2019. Kemudian Riau, menurun dari 207 titik panas pada pekan ketiga September 2019 menjadi satu titik panas pada pekan pertama Oktober 2019.

Berkurangnya jumlah kejadian karhutla menurut Presiden Joko Widodo dalam akun Instagram-nya, Jumat (4/10), merupakan upaya pemerintah dan berbagai pihak. Sejak September 2019, pemerintah telah menurunkan 45 pesawat dan helikopter untuk menyemai 2.000 ton garam untuk mempercepat pertumbuhan awan hujan. Pesawat juga dikerahkan untuk menyiram air dari udara selama beberapa kali di lokasi kebakaran hutan dan lahan.

"Di darat, petugas dan relawan berjibaku memadamkan api langsung di hutan-hutan gambut," kata Jokowi.

Tetap waspada

Meski jumlah kejadian karhutla dan titik api berkurang, lahan gambut yang terbakar masih menyimpan potensi bara api. Bara api di dasar gambut sewaktu-waktu bisa kembali membakar lahan dan hutan yang ada di sekitarnya.

Gambut merupakan jenis lahan yang terbentuk dari akumulasi sisa tumbuhan yang setengah membusuk atau mengalami dekomposisi tidak sempurna, mengandung bahan organik yang tinggi, biasanya digenangi air sehingga kondisinya anaerobik. Kedalamannya bisa mencapai 10 meter.

Hutan rawa gambut di Indonesia umumnya memiliki kandungan organik lebih dari 65%. Luas lahan gambut di Indonesia diperkirakan 20,6 juta hektare atau sekitar 10,8% dari luas daratan Indonesia. Dari luasan tersebut, sekitar 7,2 hektare atau 35% terdapat di Pulau Sumatra dan sekitar 5,7 hektare atau 27,8% terdapat di Pulau Kalimantan.

Pada kondisi alami lahan gambut tidak mudah terbakar karena sifatnya menyerap dan menahan air secara maksimal. Gambut menyimpan banyak air di saat musim hujan dan melepaskan air secara perlahan-lahan pada musim kemarau. Ketika keseimbangan ekologisnya terganggu, kemampuannya dalam menyerap dan menyimpan air menjadi tidak maksimal. Pada musim kemarau, lahan gambut akan mengalami kering sampai kedalaman tertentu dan mudah terbakar.

Kondisi tersebut menyebabkan kebakaran yang terjadi di lahan gambut sulit dipadamkan. Meskipun di permukaan terlihat padam, di dalamnya bisa jadi masih membara sehingga mengeluarkan asap dan menyebabkan bencana asap.

Meski api sudah tak tampak di permukaan, para petugas masih menyirami lahan bekas kebakaran dengan air. Tujuannya untuk melakukan pendinginan agar suhu panas di bawah permukaan tanah tak kembali menjadi titik api dan membakar lahan itu lagi. Proses pendinginan ini jauh lebih sulit daripada proses pemadaman. Titik-titik yang masih menyisakan asap menandakan masih ada bara di bawah gambut yang berpotensi menjadi titik api. (Antara/BNPB/Dokumentasi MI/M-1)

BERITA TERKAIT