05 October 2019, 07:00 WIB

Lestari Moerdijat Perempuan di Kursi Pimpinan MPR 2019-2024


Dhika Kusuma Winata | Hiburan

MI/HARYANTO MEGA
 MI/HARYANTO MEGA
Lestari Moerdijat yang akrab dipanggil Mbak Rerie, politikus Partai NasDem.

Dedikasinya yang tinggi, kerja keras, serta kegemarannya berorganisasi mengantarkannya menjadi salah satu nakhoda MPR periode 2019-2024.

SIDANG Paripurna MPR di kompleks parlemen Senayan, Jakarta, pada Kamis (3/10) malam mendapat perhatian dari peserta yang hadir atau pemirsa televisi di rumah. Salah satu yang menjadi pusat perhatian ialah adanya satu sosok perempuan yang duduk di kursi wakil ketua MPR periode 2019-2024 di antara sembilan wakil ketua MPR yang semuanya laki-laki.

Perempuan itu ialah Lestari Moerdijat yang akrab dipanggil Mbak Rerie, politikus Partai NasDem. Meski perempuan kelahiran Surabaya 30 November 1967 itu merupakan pendatang baru di parlemen, Rerie cukup dikenal di kalangan wartawan. Itu karena dia dulu juga pernah menggeluti profesi wartawan.

Pada Pemilu 2019, Rerie maju sebagai calon legislatif untuk NasDem dari Daerah Pemilihan 2 Jawa Tengah. Kerja kerasnya membuahkan hasil gemilang, Rerie bahkan memeroleh suara terbanyak dengan 162.996 suara.

Perolehan suaranya itu cukup istimewa karena Rerie bertarung di daerah pemilihan yang dikenal keras. Atas segala prestasinya itu, Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh menunjuk dia sebagai calon pimpinan MPR dari Partai NasDem. Di mata Surya Paloh, sosok Rerie dinilai sebagai pribadi yang pas untuk ikut menakhodai MPR.

Penilaian Surya Paloh tentu penuh pertimbangan. Meskipun pendatang baru di parlemen, Rerie yang juga menjabat Dewan Pembina Yayasan Sukma ini dikenal memiliki kemampuan mumpuni.

"Saya kenal lebih dari 30 tahun, dia seorang wartawati muda, hingga berkembang jadi pimpinan CEO korporasi besar. Tekun, teliti, ada idealisme di sana," kata Surya Paloh.

Rerie boleh dibilang merupakan eksekutif perempuan yang lengkap. Beberapa posisi strategis di Media Group dia jabat dan jalani dengan profesional. Termasuk pernah menduduki jabatan pimpinan di berbagai anak perusahaan Media Group- di antaranya Metro TV dan Harian Media Indonesia.

Sebagai pengurus di ragam organisasi sosial lainnya juga dilakoninya termasuk sebagai founder organisasi Persatuan Philanthropy Indonesia.

Sebagai penyintas kanker, Mbak Rerie juga memberikan perhatian khusus pada kegiatan pencegahan kanker -khususnya kanker payudara- melalui berbagai organisasi yang ada maupun pada gerakan yang dibinanya, seperti Sahabat Lestari dan Millennials Goes Pink.

Suka berorganisasi

Sejak di bangku sekolah, Rerie sudah aktif berorganisasi dan menjadi pengurus organisasi pelajar, organisasi mahasiswa, dan juga pramuka. Aktivitasnya itu berlanjut hingga dia menjadi pengurus di organisasi profesi dan organisasi keolahragaan. "Sejak dulu saya gemar berorganisasi," ujarnya.

Di bidang ekonomi, pemberdayaan perempuan dan pemuda, serta pendidikan menjadi titik berat perhatiannya. Di samping itu, sejalan dengan latar belakang pendidikannya bidang sejarah dan budaya ialah hal yang menarik minatnya.

Kini di partai, Rerie adalah anggota Majelis Tinggi Partai NasDem, yang juga menjadi koordinator wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Ibu dari empat orang anak ini menyelesaikan pendidikan sarjananya dan lulus sebagai arkeolog dari Universitas Indonesia.

Jenjang S-2 diselesaikannya di Universitas Pelita Harapan, dan saat ini tengah melanjutkan program S-3 pada universitas yang sama.

Hingga kini Rerie terlibat aktif dalam sejumlah misi kemanusiaan, khususnya yang dilakukan Media Group. Pada 2004, ia bertugas sebagai koordinator penanganan bencana tsunami Aceh/Nias yang digagas Media Group, yang kemudian meneruskan sebagai penanggung jawab program kemanusiaan lanjutannya di bawah Yayasan Sukma.

Salah satu peran penting yang juga menjadi catatan ialah perannya dalam dalam membebaskan 10 nelayan yang disandera kelompok Abu Abu Sayyaf pada 2016, yang merupakan kerja sama Yayasan Sukma, Media Group, dan Partai NasDem. (H-1)

BERITA TERKAIT