05 October 2019, 07:50 WIB

Pelajar Bersihkan Aksi Demo yang Tercoreng


MI | Politik dan Hukum

MI/Adam Dwi
 MI/Adam Dwi
Beberapa pelajar mengecat tembok yang menjadi sasaran vandalisme saat kericuhan terjadi dalam unjuk rasa di kawasan Senayan

GELOMBANG demonstrasi mahasiswa untuk menolak sejumlah rancangan undang-undang bermasalah, seperti Rancangan Kitab Undang-­Undang Hukum Pidana (RKUHP), bergulir sejak 23 dan 24 September 2019, di depan gedung DPR RI. Puncaknya, mahasiswa harus berhadapan dengan aparat ketika terjadi kerusuhan.

Selanjutnya, aksi juga diikuti ribuan pelajar SMK, STM, dan SMA se-Jabodetabek dengan mengusung tuntutan yang sama dan sempat diwarnai ­kerusuhan. 
Untuk membuktikan karakter sebagai warga negara yang bertanggung jawab, sejumlah mahasiswa dan pelajar SMA dan SMK yang tergabung dalam kelompok Aktivis Milenial (Z) melakukan aksi bersih-bersih, Mereka mengecat ulang tembok-tembok di kawasan Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, kemarin, yang menjadi sasaran vandalisme di tengah aksi demonstrasi mahasiswa dna pelajar. 

Arief Rosyid selaku inisiator kegiatan mengatakan aksi mereka berawal dari keresahan adanya coretan-coretan bekas kerusuhan di berbagai sudut jalanan kawasan Gedung DPR/MPR RI yang terkesan membuat kumuh Ibu Kota.
“Kami dari aktivis milenial dan kawan-kawan pelajar dari SMA dan SMK sederajat meng­apresiasi bahwa budaya demokrasi anak-anak muda tetap subur dan berkembang, baik aktivis yang turun kejalan maupun yang meramaikan dunia maya,” kata Arief .

Mereka mengapresiasi aksi unjuk rasa mahasiswa dan pelajar beberapa waktu lalu. Namun aksi demo sedikit tercoreng dengan adanya ­kerusuhan dan perusakan fasilitas umum. Untuk itu, aksi mengecat tembok ini sebagai salah satu bentuk tanggung jawab mahasiswa dan pelajar.

“Setelah aksi demo kemarin, kami melihat banyak coretan dinding. Dari itu kami dari aktivis milenial dan aktivi (z) aktivis generasi z  bersama-sama membuat kegiatan ngecat bareng pascademo, agar terlihat lebih rapih,” ucap Arief.

Salah satu peserta aksi yang juga Presiden Forum OSIS DKI Jakarta, Alvinaldy Fitrah, menegaskan bahwa pelajar tidak salah ketika ikut terlibat dalam aksi penyampaian pendapat. Dia menilai, gerakan pelajar itu sebuah kemajuan dan bentuk kepedulian akan demokrasi.

“Pelajar tidak dapat disalahkan, yang perlu dilakukan adalah bersama menyiapkan wadah untuk menyampaikan aspirasi-aspirasi dan keresah-annya dalam melihat isu-isu politik di Indonesia sesuai dengan ranahnya sebagai pelajar,” kata Alvinaldy. (Mal/P-2)

BERITA TERKAIT