04 October 2019, 19:30 WIB

ESRI Manfaatkan Teknologi Geospasial Bantu Penanganan Karhutla


Ghani Nurcahyadi | Humaniora

Dok. ESRI Indonesia
 Dok. ESRI Indonesia
Pantauan titik hotspot dalam aplikasi ESSC yang dirancang ESRI

KEBAKARAN hutan dan lahan pada sejumlah daerah di Sumatera dan Kalimantan turut membahayakan kualitas udara di Indonesia serta negara tetangga. Esri Indonesia, sebagai penyedia solusi geospasial, memiliki program respons bencana khusus yang disebut Emergency Spatial Support Centre (ESSC) dengan membuat instrumen dasbor pemetaan canggih.

Dasbor ini dirancang guna mendukung otoritas pemerintah dalam mengelola dan merespons dampak Karhutla. Program ini bertujuan untuk menyediakan dukungan dan upaya-upaya bantuan dengan menggunakan teknologi dan kecanggihan geospasial ketika kapasitas pada penanganan pertama telah melampaui batas.

ESSC memberi dukungan kepada pemangku kepentingan dalam melakukan respons cepat terhadap bencana nasional, termasuk gempa bumi dan tsunami di Palu-Donggala, juga peristiwa erupsi Gunung Agung pada 2017.

Selama masa penanganan bencana tersebut, ahli geospasial dari Esri Indonesia memberikan keahlian dan keterampilan geospasial yang mereka miliki untuk mengembangkan aplikasi pintar. Aplikasi tersebut dapat menyediakan informasi situasional yang kolaboratif bagi lembaga bantuan bencana dan memfasilitasi respons tanggap darurat yang efektif dan terkoordinasi.

“Misi kami adalah untuk mendukung masyarakat dan pemerintah yang terkena dampak dari situasi bencana yang sangat kompleks dengan menyediakan informasi berbasis kecerdasan lokasi,” ujar A. Istamar, CEO Esri Indonesia dan pendiri ESSC dalam ketwrangan tertulisnya.

 

Baca Juga: Andy F Noya Luncurkan BenihBaik.com

 

Dalam minggu ini tim ESSC dari Esri Indonesia telah mengembangkan dasbor pemetaan yang mengintegrasikan dan memvisualisasikan data potensi titik panas (hotspot), rentang tingkat kepercayaan, fasilitas kesehatan dan pendidikan, serta kualitas udara.

Hal tersebut memungkinkan pengguna untuk memiliki kesadaran situasional yang lebih tinggi pada titik panas utama kebakaran hutan dan mengetahui dampaknya terhadap tingkat kualitas udara di masyarakat.

Dengan kemampuan mengidentifikasi resiko kebakaran dapat mendorong lembaga penanganan bencana untuk memprioritaskan resiko tersebut dan segera melakukan pengambilan keputusan.

Selain itu, juga membantu upaya mitigasi, perencanaan, dan kemampuan untuk pengambilan keputusan berbasis data dalam penggunaan sumber daya (tenaga ahli dan logistik).

Menurut Istamar, teknologi geospasial memiliki kemampuan untuk menyajikan data dalam perspektif visual sehingga memberikan kemudahan dalam mengkomunikasikan risiko kepada masyarakat.

Hal itu juga memungkinkan pemerintah untuk menganalisa sejumlah kumpulan data dalam menentukan bagaimana risiko tersebut berdampak pada warga, infrastruktur, dan lingkungan.

“Kami memberikan manfaat teknologi geospasial kepada para pengguna perangkat lunak kami, seperti BNPB dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk menyediakan informasi berbasis lokasi dan mengkomunikasikan kepada masyarakat melalui pihak berwenang dengan menggunakan peta digital yang kuat dan rinci, yang dirancang khusus guna memenuhi kebutuhan masyarakat luas," pungkasnya. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT