04 October 2019, 23:00 WIB

Petani Sragen Mendulang Rezeki


Widjajadi | Nusantara

MI/WIdjajadi
 MI/WIdjajadi
Kemarau panjang tidak membuat kalangan petani di kabupaten Sragen patah arang dalam mengelola tanaman padi.

KEMARAU panjang tidak membuat petani di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, patah arang. Pada panen yang berlangsung sejak awal September lalu, sebagian petani bisa menghasilkan gabah kering (GKP) sebanyak 9,4 ton per hektare.

Untung mereka kian menebal karena harga gabah hingga kini masih tinggi, yakni di kisaran Rp5.200 sampai Rp5.300 per kg. "Panen tidak serentak ini membuat harga gabah sangat baik. Teman-teman petani menikmati harga gabah yang tinggi di atas Rp5.000 per kg. Bahkan di sejumlah desa, ada yang mencapai Rp5.200 dan Rp 5.300 per kg," kata Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Sragen, Suratno kepada Media Indonesia, kemarin.

Dia melanjutkan, di saat harga gabah tinggi seperti saat ini, tidak membuat harga beras di pasar melonjak. Harga beras di pasar tradisonal cenderung normal.

Menurut data Dinas Pertanian Sragen, hingga akhir September 2019, luas lahan yang sudah dipa-nen sekitar 20 ribu hektare. "Bisa dikatakan tidak ada yang puso di Sragen. Hal ini karena keserius-an para petugas penyuluh dan pengendali organisme pertanian terpadu (POPT) membantu petani, serta upaya mendapatkan air irigasi melalui sumur pantek maupun sumur dalam. Ini sungguh masa panen yang sangat baik," terang Kepala Dinas Pertanian Sragen, Eka Rini Mumpuni Titi Lestari.

Dia memaparkan, sepanjang musim kemarau, petani secara swadana dan lewat bantuan peme-rintah, memanfaatkan sumur dalam, sehingga sawah mereka tidak kekurangan air. Petani secara gotong royong juga melakukan pemberantasan terhadap hama tikus.

Dengan upaya itu, hampir 100% padi di Sragen tidak puso. Hal yang jelas, lanjut Eka, untuk mengantisipasi kemarau panjang, sekitar 28 ribu titik sumur dangkal dan sumur dalam di Sragen dimanfaatkan secara maksimal.

Tidak hanya itu, jika sebelumnya petani menggunakan BBM dan gas elpiji, kini mereka menggerakkan mesin pompa (sumur dalam) dengan listrik.

Di Kabupaten Flores Timur (Flotim), Nusa Tenggara Timur, sekalipun kemarau panjang melanda, Dinas Pertanian Flotim memprediksi justru terjadi peningkatan produksi padi.

Perkiraan itu didasarkan pada pengamatan bahwa penyusutan luas lahan tanam tidak menurunkan hasil produksi padi.

"Kemarau kali ini membuat lahan tanam padi menurun sekitar 9 hektare. Luas lahan sawah yang ditanami padi pada 2018 seluas 929 hektare, tahun ini aki-bat kemarau menurun jadi 920 hektare," Kepala Seksi Perbenihan dan Perlindungan Tanaman Pangan Dinas Pertanian Flotim, Andreas Keban Kamis (3/10)

Harga stabil

Hal sebaliknya terjadi di Tasik-malaya, Ciamis, Pangandaran, Garut, dan Banjar Jawa Barat. Di wilayah-wilayah tersebut, produksi gabah menyusut akibat kemarau panjang.

Meski begitu, harga beras di pasar tradisional tetap stabil. "Keke-ringan selama lima bulan terakhir, tidak membuat harga beras di pasar tradisional naik, tapi tetap stabil. Rata-rata harga beras antara Rp9.000 hingga Rp12.000 per kg. Namun, untuk harga gabah sudah mencapai Rp6.000 per kg," kata Ketua Gapoktan Kota Tasikmalaya, Yuyun Suyud, kemarin. (AD/FB/MG/LD/PT/RF/BB/N-3)

BERITA TERKAIT