05 October 2019, 14:05 WIB

Joker yang Tak Kuasa Dibenci


Abdillah Marzuqi | Weekend

Warner Bros Entertainment Inc
 Warner Bros Entertainment Inc
Joker (2019) yang dibintangi Joaquin Phoenix diprediksi menembus seleksi Oscar 2020

Ada ungkapan bahwa tragedi dan komedi hanya soal sudut pandang. Tragedi bisa dilihat sebagai komedi, begitupun sebaliknya. Contoh sederhana, konten komedi dalam dunia hiburan kerap menampilkan tragedi untuk ditertawakan. Kerap disajikan adegan mencemooh, memukul, menertawakan tubuh hingga pelecehan terhadap kondisi asali orang lain. Semua itu dianggap sebagai jalan masuk untuk membuat penonton tertawa. Komedi adalah pandangan jauh dari tragedi.

Berkait erat, kali ini, film Joker (2019) memicu pro dan kontra dengan jalan ceritanya. Joker, sebagai salah satu antihero legendaris di jagat DC Comics, memang 'pangeran badut' yang penuh misteri dan kontroversi. Plotnya dibanjiri pujian sekaligus kritik. Banyak yang memuji, tidak sedikit pula yang mengkritik, dinilai terlalu mengglorifikasi aksi kejahatan massal dengan berdasar pengalaman masa lalu.

Aktor watak, Joaquin Phoenix, menjadi aktor yang terpilih untuk memerankan Arthur Fleck, seorang komedian pecundang yang kemudian menjelma bos kejahatan terkenal dan pembunuh berantai kota Gotham.

Meski diambil dari karater DC, film Joker berbeda dari film superhero DC yang bermain dengan efek visual megah. Joker boleh dibilang sama sekali tidak menyuguhkan adegan perang khas film pahlawan super, justru lebih dominan unsur drama. Meski begitu, nuansa kelam yang biasa hadir di film-film DC, khususnya Batman, tetap kentara di Joker. Amat kentara, malah.

Sebelum Joker terlahir, hiduplah seorang pria bernama Arthur Fleck (Phoenix) di Gotham. Ia bekerja sebagai seorang badut panggilan dan bercita menjadi komedian besar.

Bertolak belakang dengan profesi, kehidupan Arthur penuh dengan tragedi. Ia pria separuh baya yang miskin, tinggal dengan ibunya, Penny Fleck (Frances Conroy), dan kerap menjadi korban perundungan.  Mereka hidup di apartemen kumuh. Hiburan Athur hanya sebatas menonton televisi acara Murray Franklin (Robert De Niro).

Selain kota yang tidak bersahabat, Arthur juga punya masalah dengan kedirian. Ia menderita sindrom tertawa, yang kambuh saat dalam kondisi tidak menguntungkan. Sindrom tertawa mengawali setiap pergeseran karakter Arthur menuju Joker.

Sebagai suatu origin story, selama 2 jam durasi, plot berfokus pada pengembangan karakter Joker. Karakternya sengaja dilepaskan dari citra penebar teror dan kejahatan yang lekat dijumpai dalam film Batman. Sebaliknya, Arthur Fleck ialah objek penderita dari hiruk pikuk kota.

Kendati musuh Batman nan legendaris tersebut selama ini lekat dengan citra bengis dan brutal, Joker ciptaan Phoenix sukar dibenci.

Joker menjadi pahlawan dan simbol perlawanan bagi kaum tertindas yang merasa perjuangan kelas adalah wajib. Ia tidak lagi dicitra sebagai sekadar penjahat, melainkan penjahat yang lahir dari ketidakadilan sistem dan banyak faktor lain di luar dirinya yang berkelindan.

Bukan film aksi, lebih tepat menganggap Joker sebagai film psikologis bertaut kondisi sosial. Menjadi berbeda itu berat. Sama beratnya dengan menerima perbedaan. Konsep mendasar tentang perbedaan itu sangat ketara dalam film ini. Joker tumbuh menjadi sosok yang berpikir sederhana tentang tragedi dalam hidupnya. Hidup tiada yang lain, melainkan komedi.

Terlepas dari pro-kontra mengenai plot Joker --yang dikritik  sebagian orang karena seolah memafhumkan kekerasan-- sutradara sekaligus penulis naskah Todd Phillips berhasil menerjemahkan naskah luar biasa yang digubahnya bersama Scott Silver.

Begitu pula dengan akting metodis Phoenix. Kepiawaiannya adalah kekuatan utama film ini. Dengan elemen yang berbeda, Joker rekaan Phoenix pun tidak kalah gemilang dari Joker milik (mendiang) Heath Ledger dalam Batman: Dark Knights yang seolah 'muncul' dari buku komiknya.

Kembali pada paragraf awal, apakah film Joker berkait komedi atau tragedi? Sudut pandang masing-masing penonton boleh berbeda. Boleh juga memandang film ini adalah teka-teki. Banyak misteri yang terselip dalam adegan, begitu pula jawaban pertanyaan besar ternyata bisa muncul dari perkara kecil seperti senyuman. (M-2)

BERITA TERKAIT