04 October 2019, 19:30 WIB

Anies dan Riri Riza Berbagi Kisah Kolaborasi di IdeaFest 2019


Fetry Wuryasti | Weekend

MI/ Fetry Wuryasti
 MI/ Fetry Wuryasti
Riri Riza dan Mira Lesmana saat menjadi pembicara di IdeaFest 2019, Jumat (4/10).

TIDAK hanya soal inovasi, IdeaFest 2019 juga menyebarkan semangat kolaborasi untuk kunci kesuksesan. Hal itu pula yang didapat dari para pembicara yang hadir di gelaran hari kedua, Jumat (4/10).

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengungkapkan jika pembangunan ibu kota untuk menjadi kota 4.0 menggunakan pendekatan kolaborasi. Hal itu pula yang dilakukan untuk pembuatan sistem transportasi terintegrasi.

"Saat ini yang telah dikerjakan, dalam transportasi pelibatan angkot melalui Jaklingko, sistem transportasi terintegrasi. Kami ajak perusahan pengelola untuk menyiapkan transportasi, pemerintah membayar per kilometer,sehingga tidak terjadi angkot ngetem lagi," ujar Anies dalam IdeaFest 2019 di Jakarta, Jumat (4/10).

Contoh lainnya adalah pembuatan signage board untuk beberapa jalan. Langkah ini merupakan ide dari forum diskusi transportasi Jakarta, yang berisi anak-anak muda.

Pemprov DKI Jakarta juga bekerja sama dengan delapan perusahaan digital, yang diinisiasi anak-anak muda seperti nodeflux, duithape, botika, gojek grab, tokopedia, buka lapak, shopee. Mereka menyediakan solusi sedangkan pemerintah memiliki wewenang dan kapasitas permodalan.

"Kolaborasi ini menghasilkan face recognition, lisence speed, illegal parking detection, water level monitoring, vehicle counting. Dengan bekerja bersama maka banyak masalah yang dihadapi bisa diselesaikan. Dengan teknologi, pemasukan pajak yang tertahan hingga Rp 2 triliun bisa ditarik ke dalam dengan kemampuan teknologi," tutur Anies.

Kolaborasi dan berani mendobrak hal-hal yang sebelumnya dianggap tidak mungkin oleh orang juga dilakukan oleh Produser dan Sutradara Mira Lesmana dan Riri Riza.

Jangan takut dan terus mencoba menjadi kunci bagi mereka. Tidak jarang mereka akui film buatan duo kreator ini juga pernah tidak sesuai ekspektasi untuk menjangkau penonton.

Mendongkrak film nasional dengan Kuldesak di tahun 1998, dengan hanya lima layar di lima kota mereka mendapat 130 ribu penonton. Kemudian dilanjutkan dengan Petualangan Sherina, dengan bujet US$150 ribu tapi bisa menghasilkan 1,7 juta penonton.

Mereka lalu mencari pendekatan membuat film cara baru dengan melahirkan film-film perjalanan menjelajah Indonesia, film budaya pop, menggarap cerita tentang aktivis mahasiswa Soe Hok Gie, mencari gagasan lain melalui Laskar Pelangi, hingga kini membuat film Bebas yang menggambarkan kehidupan remaja di tahun 1995.

"Tapi bukan berarti kita berhenti membuat film,mencoba genre dan pendekatan yang berbeda. Ya memang film Indonesia sering dihantam film Hollywood. Tetapi kita harus tetap berani berhadapan di layar dengan film-film itu. Oleh karena itu sebagai penonton juga sebisa mungkin hadir menonton film Indonesia di minggu pertama. Itu penting bagi kami sebagai pembuat film," cerita Mira Lesmana. (M-1)

BERITA TERKAIT