03 October 2019, 21:45 WIB

EBT Jadi Alternatif Tingkatkan Elektrifikasi di Papua


Ghani Nurcahyadi | Nusantara

Dok. PLN
 Dok. PLN
Ekspedisi Papua Terang

SEJALAN dengan komitmen PLN dalam upaya meningkatkan rasio elektrifikasi di Indonesia hingga mencapai 100% tahun 2020, upaya meningkatkan elektrifikaai di Papua dan Papua Barat sebagai provinsi dengan rasio elektrifikasi terendah, terus diupayakan.

Direktur Human Capital Management (HCM) PLN Muhamad Ali mengatakan, upaya melistriki “Bumi Cendrawasih” tersebut tidak mudah dilakukan, mengingat  sampai Juli 2019 rasio elektrifikasi Provinsi Papua adalah 48,5% dan Papua Barat 91,22%.

Dengan 7.358 desa (sesuai Permendagri No. 137/2017), masih ada sekitar 1.724 desa yang masih gelap gulita.

Itulah awal mula yang sekaligus menjadi dasar pertimbangan, PT PLN Direktorat Bisnis Regional Maluku dan Papua, menetapkan program inisiatif strategis Ekspedisi Papua Terang pada 2018.

Langkah awal yang dilakukan PLN untuk membangun sistem kelistrikan, adalah mengadakan survei kelistrikan, yang menjadi dasar menentukan tahapan atau langkah berikutnya.

Baca juga : PLN Amankan Pasokan Batu Bara ke Sumatra

Karena itu menurut Ali, sebagai kelanjutan dari Ekspedisi Papua Terang, tahun ini PLN menetapkan “Program 1.000 Renewable Energy for Papua,” yang merupakan kerjasama PT PLN Direktorat Bisnis Regional Maluku dan Papua dengan Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Cenderawasih, LAPAN, dan TNI AD.

Alumnus Mapala Departemen (Jurusan) Geografi Universitas Indonesia Vita Khairunnisa yang ikut dalam Ekspedisi Papua Terang 2018 mengaku memperoleh banyak pengalaman selama mengikuti ekspedisi tersebut.

Sejumlah manfaat diperolehnya antara lain berkesempatan melakukan riset sistem informasi geografis untuk pengembangan riset lebih lanjut, khususnya untuk memperoleh data pendukung secara lebih praktis dan efisien.

“Mengingat pelaksanaan riset sangat mahal apabila dilakukan sendiri, maka dengan mengikuti EPT, kami yang di tahun lalu juga tengah menyusun tugas akhir (skripsi), dapat sekaligus melakukan survei dan analisisnya. Memang tugas akhir saya dilakukan di daerah yang berbeda dengan lokasi EPT. Namun karena tema yang saya ambil untuk tugas akhir dengan tujuan EPT, maka dapat dilakukan data kompilasi dan kelengkapannya,” jelas gadis kelahiran 1996 itu

Berada di Provinsi Papua sekitar satu bulan, Vita belajar banyak hal, seperti bagaimana sikap penerimaan dan penolakan dari masyarakat setempat waktu itu. Walaupun tim EPT datang dengan niat baik ingin melistriki Papua, tetapi penerimaan dari masyarat setempat tidak selalu sama nadanya.

Ia mengungkapkan, penerimana masyarakat di distrik yang berada di daerah pantai lebih terbuka dibandingkan dengan masyarakat yang tinggal di distrik daerah pegunungan.

"Namun demikian dapat dipahami, mengapa mereka bersikap demikian. Kenyataan menunjukkan dengan lokasi yang berada di daerah yang banyak terdapat areal pertambangan, maka sebagai penduduk yang berdomisili di sana, praktis mereka tidak mendapatkan manfaat yang setimpal dari potensi sumber daya alam yang ada. Itu sebabnya kerap sebagai penduduk setempat, mereka menaruh rasa curiga terhadap kedatangan orang asing,” paparnya.

Dari hasil ekpedisi, didapat kesimpulan bahwa, meski upaya memperpanjang kabel bisa dilakukan, tetapi potensi energi baru dan terbarukan pun bisa dimaksimalkan..

Dari hasil kajian dan survei menurut Kepala Divisi Pengembangan Regional Maluku-Papua PT PLN Eman Prijono Wasito Adi, ada empat alternatif EBT yang ditawarkan dalam EPT yakni Pembangkit Listrik Tenaga Pikohidro; Tabung Listrik (Talis); Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm); serta PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya).
 
Untuk Pikohidro menurut Vita, lebih cocok apabila diaplikasikan pada daerah yang memiliki perbedaan ketinggian.Pembangkit Listrik Tenaga Pikohidro merupakan pembangkit skala sangat kecil yang memanfaatkan energi potensial air untuk menghasilkan listrik berkapasitas hingga 5.000 Watt.

Baca juga : PLN Konsisten Edukasi Masyarakat Soal Keamanan Listrik

Energi potensial air menggerakkan turbin, sedangkan turbin memutar generator, dan generator inilah yang dapat menghasilkan listrik.

Sedangkan Tabung Listrik merupakan alat penyimpanan energi (energy storage) layaknya power bank, yang digunakan untuk melistriki rumah. Cukup dengan plug-and-play, masyarakat di pedalaman Papua sudah dapat memanfaatkan listrik dengan Talis ini untuk kebutuhan penerangan hingga menyalakan televisi. Talis dapat diisi ulang di Stasiun Pengisian Energi Listrik (SPEL).

Sementara PLTBm adalah pembangkit listrik skala kecil yang memanfaatkan potensi energi biomassa, seperti bambu, kayu, serat kelapa sawit dan bahan organik kering lainnya.

Pembakaran biomassa menghasilkan uap air bertekanan yang memutar turbin,  kemudian menggerakkan generator untuk menghasilkan listrik. PLTBm yang dikembangkan oleh PLN Regional Maluku dan Papua berkapasitas 3–10 kW.

"Seperti yang kita kenal selama ini Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), menjadi alternatif melistriki daerah yang sulit dijangkau oleh transportasi darat. Karena itu dengan mengandalkan sumber energi matahari, maka sangat cocok untuk kawasan terpencil. Energi listrik disalurkan melalui jaringan tegangan rendah atau digunakan sebagai SPEL untuk Talis / Energy Storage (cadangan energi)," tandas Vita. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT