04 October 2019, 06:00 WIB

Mitigasi Harus Dimaknai Investasi


.(Bay/H-1) | Humaniora

MI/ 	MOHAMAD IRFAN
 MI/ MOHAMAD IRFAN
Rektor Universitas Terbuka (UT) Prof Dr Ojat Darojat 

BERAGAM dampak yang ditimbulkan bencana alam umumnya menelan nilai kerugian yang besar berupa korban jiwa, kerusakan lingkungan, harta benda, aspek ekonomi, dan dampak psikologi. Untuk itu, mitigasi bencana, kesiapsiagaan, dan pengurangan risiko bencana harus terus ditingkatkan. Hal itu harus dimaknai pula sebagai investasi pembangunan berkelanjutan secara nasional.

Rektor Universitas Terbuka (UT) Prof Dr Ojat Darojat menyatakan hal itu di Seminar Nasional Tahunan Matematika, Sains, dan Teknologi yang digelar Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UT di kampus UT, Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten, kemarin. Turut hadir mewakili Menkominfo Rudiantara yang berhalangan, Dirjen Penyelenggaraan Pos dan Telematika, Kemenkominfo Prof Ahmad Ramly.

Pemikiran itu beralasan karena Indonesia merupakan salah satu negara yang masuk ke lingkup rawan bencana, bahkan berpredikat laboratorium bencana di dunia. Hal ini terjadi karena hampir semua jenis bencana alam telah dialami Indonesia.

"Tanpa merujuk semua aktivitas itu, dampak bencana akan senantiasa menimbulkan korban jiwa dan kerugian ekonomi yang besar," kata Ojat. Kehadiran pemerintah, imbuhnya, sangat penting dalam mitigasi dan penanganan pascabencana secara integratif agar dapat mengurangi dampak yang terjadi.

Dalam sambutan, Ahmad Ramly menambahkan, dalam penanganan bencana pihaknya mendokumentasikan kegiatan pascabencana dengan mengupayakan sinyal berjalan baik."Telekomunikasi itu ibarat oksigen. Jika normal, tidak masalah. Namun, jika sinyal hilang, akan kerepotan," tukasnya.

Dekan FST UT, Agus Santoso, menambahkan kegiatan seminar digelar dalam rangka menumbuhkan budaya siaga terhadap bencana. Kegiatan itu juga sebagai sarana memfasilitasi para akademisi dan praktisi untuk berbagi pengalaman dan pemikiran sesuai bidang keahlian.(Bay/H-1)

BERITA TERKAIT