04 October 2019, 05:40 WIB

Taman Nasional Komodo Dikelola Berbasis Ekosistem


sri utami | Humaniora

ANTARA FOTO/Kornelis Kaha/ama.
 ANTARA FOTO/Kornelis Kaha/ama.
 PULAU KOMODO: Seorang petugas mengawasi seekor Komodo (Veranus Komodoensis) yang sedang berjemur di pesisir pantai Pulau Komodo, 

BERBASIS ekosistem atau ecosystem base management, begitulah Pulau Komodo di Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur (NTT), akan dikelola nantinya. Penataan ulang salah satu tujuh keajaiban dunia itu akan diintegrasikan dengan destinasi unggulan Labuan Bajo.

"Masyarakat Desa Komodo merupakan salah satu unsur dari ekosistem Pulau Komodo sehingga pengelolaannya harus menjadi satu kesatuan," kata Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Djati Witjaksono Hadi di Jakarta, kemarin.

Di taman nasional itu, tercatat ada tiga desa yang didiami lebih dari 4 ribu jiwa. Satu desa terletak di Pulau Komodo dengan jumlah penduduk 1.818 jiwa, yang termasuk dalam zona khusus permukiman seluas 17,6 hektare sejak 24 Februari 2012.

Sebelum ditetapkan sebagai taman nasional, ekspedisi Douglas Burden mencatat adanya permukiman di Pulau Komodo yang dihuni 40 keluarga, pada 1926.

Djati mengatakan, sebagai tujuan wisata alam premium, perlu dibangun penyediaan sarana-prasarana dan jasa wisata alam yang mempunyai kualitas berstandar internasional, termasuk sebuah museum.

Oleh sebab itu, pengelolaan Taman Nasional Komodo harus terintegrasi dengan pengembangan destinasi wisata Labuan Bajo. "Saat ini sedang disusun ITMP (integrated tourism master plan) Labuan Bajo-Flores yang akan diselesaikan di 2020," terang Djati.

Penegasan ini sekaligus menjawab keresahan masyarakat setempat setelah mencuatnya wacana penutupan dan relokasi penduduk di Pulau Komodo, beberapa waktu lalu. Kondisi itu mendorong Menteri LHK Siti Nurbaya membentuk tim terpadu untuk melakukan kajian.

Tim terpadu menyimpulkan Pulau Komodo tidak perlu ditutup karena tidak ada alasan yang dapat dijadikan dasar penutupan baik ditinjau dari aspek ekologi, sosial, dan ekonomi.

Penutupan Pulau Komodo akan menimbulkan kerugian bagi pelaku usaha wisata. Dari hasil monitoring populasi Komodo oleh Balai Taman Nasional Komodo dan Komodo Survival Program (KSP), populasi komodo selama lima tahun terakhir berfluktuasi dengan tren yang relatif stabil antara 2.400-3.000 ekor.

Tiket Rp14 juta

Seusai rakor menteri dan Gubernur NTT di Jakarta, Senin (30/9), Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menyebut Pulau Komodo akan menjadi destinasi wisata eksklusif dengan harga tiket masuk yang mencapai US$1.000 atau Rp14 juta per orang dalam bentuk membership tahunan.

Pengenaan harga tiket masuk yang mahal itu juga ialah gagasan Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat.

"Kami tidak menghendaki Pulau Komodo nanti mengarah kepada mass tourism, yakni wisatawan datang berbondong-bondong masuk ke Pulau Komodo tanpa memperhatikan lingkungan di Pulau Komodo sehingga terjadi perburuan liar dan kerusakan lingkungan. Kami inginkan komodo menjadi liar sehingga kawasan itu seperti aslinya," kata Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT Marius Jelamu seperti dikutip dari Antara. (JL/H-2)

BERITA TERKAIT