04 October 2019, 00:05 WIB

Stok Bulog tidak Mampu Menahan Kenaikan Harga Beras


MI | Ekonomi

ANTARA
 ANTARA
Stok Bulog tidak Mampu Menahan Kenaikan Harga Beras

HARGA beras mencatatkan inflasi di kala sektor bahan makanan mencatatkan deflasi hingga 1,97% pada September kemarin. Kenaikan harga di komoditas itu dinilai merupakan imbas dari minimnya produksi.

Bahkan, inflasi pada beras diproyeksikan terus berlanjut dengan kenaikan yang cukup tinggi pada Desember hingga Januari 2020. Stok beras Bulog pun dinilai tidak akan mampu mengamankan permintaan sampai akhir tahun.

Pengamat ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Rusli Abdulah meng-ungkapkan kenaikan harga beras menjadi sulit dikendalikan karena memasuki caturwulan akhir yang dimulai dari September.

Dia mengatakan rata-rata produksi beras hanya 1,5 juta ton, padahal kebutuhan konsumsi masyarakat tiap bulan mencapai 2,5 juta ton.

"Ada gap antara supply and demand (permintaan dan penawaran)," ucapnya kepada wartawan di Jakarta, kemarin.

Kondisi itu mendorong harga beras menjadi mahal. Bahkan jika melihat trennya, ia memprediksi harga beras akan terus meningkat sampai Desember. Penyebabnya, pada periode ini tidak ada panen raya.

Rusli memperkirakan stok beras di Bulog hanya akan cukup sampai November tahun ini. Kondisi itu bisa menyebabkan harga beras melambung tinggi pada Desember 2019 dan Januari 2020.

Sebenarnya, kondisi tersebut bukan hanya terjadi pada 2019. Siklus semacam ini terjadi juga di tahun-tahun yang lalu. Kondisi itu berulang sebab petani umumnya akan menunggu musim penghujan untuk mulai menanam.

Ia pun meminta pemerintah membuat manajemen stok beras yang lebih baik. Dengan begitu, kenaikan harga beras diharapkan tidak menjadi momok tahunan.

"Harus ada stok beras yang cukup untuk kebutuhan sampai masa panen tiba," tegas Rusli.

Pada 2018 defisit produksi beras sebenarnya baru terjadi pada Oktober. Pasalnya, produksi beras pada September mencapai 2,78 juta ton dan konsumsi beras 2,43 juta ton.

Memasuki kuartal akhir, produksi beras langsung anjlok ke 1,31 juta ton tiap bulan. Produksi terendah terjadi pada November yakni 1,20 juta ton. Namun, tahun ini, defisit produksi terjadi sejak September.

Pengamat pertanian Institut Pertanian Bogor Dwi Andreas menyebutkan harga beras yang meningkat ditopang defisit produksi jika dibandingkan dengan konsumsi bulanan. Konsumsi masyarakat masih bisa diselamatkan karena ditopang stok dari panen sebelumnya.

"Mulai September biasanya sudah minus. Yang dipanen dengan konsumsi bulanan lebih besar konsumsi bulanan," ujarnya. (Ant/E-3)

BERITA TERKAIT