04 October 2019, 07:05 WIB

Pembelajaran Mandiri untuk Tangkal Hoax


Abdillah Marzuqi | Weekend

MI/ Abdillah Marzuqi
 MI/ Abdillah Marzuqi
Pengenalan hoaxplay.com di Jakarta, Kamis (3/10)

LEMAHNYA kesadaran masyarakat akan hoax sudah sering terlihat dengan viralnya kabar bohong. Pada tahun lalu pun, berdasarkan survei yang dilakukan Dailysocial.id menunjukan bahwa 53% dari 2032 responden sering menerima hoax. Ketika menerima hoax, 51% tidak melakukan apapun. Hanya 32% responden yang melakukan verifikasi terhadap informasi yang diterima. Sebanyak 75% responden mengaku kesulitan mendeteksi hoak.

Atas kondisi tersebut, literasi digital di Indonesia dinilai urgen untuk ditingkatkan. Demikian dikatakan Project Officer Hoaxplay.com, Nisrina Nadhifah, Kamis (3/10), di Jakarta.

"Literasi digital di Indonesia perlu ditingkatkan, sehingga berguna untuk melawan informasi pailsu dan berita bohong yang tersebar di internet. Tapi sebaiknya tidak berhenti hanya sekedar memahami dan mendeteksinya, tetapi juga diperlukan tindakan-tindakan nyata untuk menghentikan hoax dan berita bohong tersebut," ujarnya.
 
Hoaxplay.com adalah media pembelajaran mandiri yang bisa dimanfaatkan untuk keluar dari kusutnya pusaran hoax. Tujuan dari pembelajaran mandiri itu adalah meningkatkan kemampuan pengguna dalam mencari tahu informasi, berita, dan pengetahuan. Platform digital itu juga mendorong pengguna untuk aktif terlibat dalam mencegah dan merespon hoax.

Berdasarkan riset awal Hoaxplay, anak muda yang lahir dan tumbuh bersamaan dengan perkembangan teknologi informasi lebih melek informasi. Mereka pun punya kemampuan tersendiri dalam merespon hoax.
Wadah edukatif tersebut dibuat untuk anak muda usia 15-22 tahun. Ada lima langkah sebagai bekal untuk melawan hoax dan berita bohong yakni; melatih daya berpikir kritis, tipologi informasi, teknik mendeteksi dan meresponhoax, cara menyikapi hoax yang beredar di lingkungannya, dan mengajak orang di sekitar untuk turut melawan hoax.

"Kita ingin mendorong mereka ebih dari sekedar memahami hoax, membedakan hoax atau tidak. Kita ingin mereka bersikap dan juga merespon dengan aktif," terang Afra Suci dari Hivos.

Hoaxplay.com berisi beragam materi yang menyenangkan bagi anak muda, seperti audio-visual berupa permainan, video, dan infografis. Serta dilengkapi bahan bacaan dengan gaya populer untuk membantu anak muda memahami materi.

Hoaxplay.com resmi diluncurkan pada tanggal 3 Oktober 2019. Ditandai dengan talkshow Mencari Langkah untuk Merespons Hoax yang dihadiri narasumber dari Siberkreasi, ICT Watch, Cameo Project, dan Pamflet.

Menurut Content-creator Cameo Project Martin Anugrah, seorang pembuat konten digital ataupun influencer punya peran yang strategis. Mereka memiliki tanggung jawab besar dalam menyebarkan pesan-pesan di wadah yang dimilikinya.

"Di satu sisi, contentcreator atau influencer memiliki privilege dan power karena pengikut yang banyak, tapi kita juga harus sadar bahwa apa yang kita lontarkan kemungkinan besar akan mempengaruhi pola pikir bahkan perilaku orang lain. Kami di Cameo Project senantiasa encourage teman-teman muda pengikut kami untuk bisa berpikir kritis dalam menerima informasi dan jangan mudah percaya," ujar Martin Anugrah. (M-1)

BERITA TERKAIT