03 October 2019, 19:55 WIB

Bappenas: Tingkat Inflasi Jadi Keberhasilan RPJMN 2014-2019


Nur Aivanni | Ekonomi

MI/PIUS ERLANGGA
 MI/PIUS ERLANGGA
Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brojonegoro

MENTERI PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan bahwa pemerintah belum bisa menyimpulkan secara keseluruhan terkait pencapaian target yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019. Pasalnya, ada data 2019 yang masih belum dikeluarkan.

Hanya saja, ia mengutarakan bahwa mayoritas target yang tertuang dalam RPJMN 2015-2019 telah tercapai di masa pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla. 

"Paling tidak yang tercapai lebih besar daripada kategori sulit atau tidak tercapai, tapi angkanya belum bisa saya keluarkan karena masih banyak data 2019 yang belum dikeluarkan," katanya dalam konferensi pers di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (3/10).

Inflasi, kata dia, menjadi salah satu pencapaian yang cukup berhasil. Pasalnya, tingkat inflasi selama lima tahun ini selalu berada di angka 3% hingga 4%. 

"Ini (inflasi) salah satu prestasi yang terbaik karena kita bisa menjaga stabilitas inflasi pada tingkat yang rendah yang berarti bisa memperkuat atau mempertahankan daya beli masyarakat," katanya.

Untuk diketahui, RPJMN 2015-2019 mempunyai tema mewujudkan Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian. RPJMN tersebut terbagi ke dalam lima dimensi pembangunan. 

Pertama, perkembangan ekonomi. Kedua, pembangunan manusia dan masyarakat. Ketiga, pengembangan sektor unggulan. Keempat, pemerataan dan kewilayahan. Kelima, pembangunan politik, hukum, pertahanan dan keamanan.

Selain inflasi, dimensi perkembangan ekonomi yang tercapai adalah mengenai tingkat pengangguran terbuka dan penyediaan lapangan kerja. Sementara, lanjut dia, yang sulit tercapai adalah terkait pertumbuhan ekonomi yang berada di angka 5% dan tax ratio yang masih di bawah target. 

"Dimensi ekonomi mungkin yang paling berat, karena pencapaiannya 50:50 antara yang tercapai dengan yang sulit tercapai," katanya.

Baca juga: Satu Data untuk Hilangkan Ego Sektoral

Untuk dimensi pembangunan manusia dan masyarakat, kata Bambang, mayoritas lebih banyak yang tercapai dari pada yang sulit tercapai. Target yang tercapai antara lain mengenai indeks pembangunan manusia (IPM) yang mulai 2016 mulai menyentuh angka 70 atau masuk kategori tinggi dan terkait penyelesaian masalah stunting.

Capaian serupa juga terjadi dalam dimensi pembangunan sektor unggulan. Bambang menyampaikan bahwa target dalam dimensi tersebut juga lebih banyak yang tercapai daripada yang sulit tercapai. Ia mencontohkan dwelling time di pelabuhan yang diperkirakan tahun ini 3,32 hari, rasio elektrifikasi yang hampir mencapai 100% dan konsumsi listrik yang mencapai 1.200 kWh per kapita.

"Yang sulit tercapai, misalnya wisatawan mancanegara. Target 2019 20 juta (wisman), perkiraannya di 2019 ini mungkin seputaran 17-18 juta (wisman)," tambahnya.

Adapun untuk dimensi pemerataan dan kewilayahan, kepemilikan akta kelahiran bagi masyarakat termasuk menjadi target yang berhasil dicapai. Untuk gini ratio, kata Bambang, masih belum memenuhi target. Hanya saja, sambungnya, trennya sudah jauh lebih rendah dari yang sebelumnya di angka 0,4 kini menjadi 0,382.

Sementara itu, dimensi pembangunan politik, hukum, pertahanan dan keamanan, kata Bambang, mayoritas targetnya juga tercapai, termasuk pemenuhan Minimum Essential Force (MEF). Capaian lainnya adalah partisipasi politik sebesar 81,7% dari target 77,5%. 

"Yang sulit misalnya terkait penegakan hukum dan belanja daerah, belanja modalnya terlalu rendah, sedangkan belanja pegawainya masih relatif tinggi," terangnya.

Lebih lanjut, Bambang menyampaikan bahwa evaluasi tersebut akan menjadi bahan bagi Bappenas dalam menyiapkan RPJMN 2020-2024. 

"Selain bisa membaca bagaimana arah pergerakan ekonomi dunia, tentunya juga harus bisa menerjemahkan visi-misi Presiden maupun janji Presiden yang disampaikan selama masa kampanye," tandasnya. (A-4)

BERITA TERKAIT