03 October 2019, 15:56 WIB

Capai 161, Pertamina Berhasil Lampaui Target BBM Satu Harga


Tesa Oktiana Surbakti | Ekonomi

ANTARA FOTO/Olha Mulalinda
 ANTARA FOTO/Olha Mulalinda
SPBU Kompak Smook Mandiri di Kampung Yukase Distrik Ayamaru Utara Kabupaten Maybrat, Papua Barat.

PT Pertamina (Persero) berhasil melampaui target pelaksanaan BBM Satu Harga, atau tiga bulan lebih cepat dari yang ditargetkan. Dari target 160 titik pada akhir 2019, Pertamina berhasil membangun 161 titik per 1 Oktober 2019.

Pada periode 2017-2019, Pertamina mendapat penugasan dari pemerintah untuk membangun 160 lembaga penyalur BBM Satu Harga. Program itu tersebar di seluruh wilayah terdepan, terluar, dan terpencil (3T). Namun, Pertamina berhasil melampaui target hingga 161 titik, dengan rincian 54 titik pada 2017, 70 titik pada 2018 dan 37 titik pada 2019.

"Kami mampu mempercepat penyelesaian target pembangunan BBM 1 Harga pada 2019. Program itu tuntas pada Oktober, dan seluruhnya beroperasi penuh maupun uji operasi. Bahkan, melebihi target yang ditetapkan, dari 36 titik yang terealisasi 37 titik," jelas VP Corporate Communication Pertamina, Fajriyah Usman, dalam keterangan resmi, Kamis (3/10).

Fajriyah menuturkan, selama tiga tahun pelaksanaan Program BBM Satu Harga, Pertamina selalu melampaui target. Pada 2018, pembangunan lembaga penyalur mencapai 124 dari target 121 penyalur. Adapun tahun ini, pembangunan dapat dituntaskan lebih cepat tiga bulan, dengan jumlah total 161 dari target 160 penyalur.

BBM Satu Harga yang dioperasikan Pertamina tersebar mulai dari Papua (33 titik), Maluku (17 titik), Nusa Tenggara (25 titik), Sulawesi (18 titik), Kalimantan (35 titik) Sumatera (28 titik) dan Jawa-Bali (5 titik).

Kehadiran BBM Satu Harga menurunkan harga BBM di pengecer yang bisa mencapai Rp 100.000 per liter. Kini dengan adanya lembaga penyalur resmi, harga BBM di pelosok sama dengan wilayah lain, yakni Rp 6.450 untuk premium dan Rp 5.150 untuk solar. Program BBM Satu Harga mendorong aktivitas ekonomi di wilayah 3T, menurunkan harga barang terutama produk lokal, serta menurunkan biaya transportasi.

"Ini wujud komitmen Pertamina dalam menyediakan energi yang di seluruh wilayah Tanah Air. Sesuai dengan prinsip availability, accessibility, affordability, acceptability, dan sustainaibility," imbuh Fajriyah.

Fajriyah menegaskan dalam mengemban tugas, Pertamina tidak hanya mempertimbangkan aspek profit semata, namun bentuk pelayanan untuk negeri. Dalam menjalankan Program BBM Satu Harga, perusahaan banyak menghadapi tantangan. Baik pada saat proses pembangunan maupun saat operasi lembaga penyalur. Misalnya pencarian investor, status lahan lokasi pembangunan lembaga penyalur, proses perizinan, konflik wilayah, kondisi cuaca, dan kewenangan dalam hal uji tera.

"Tantangannya tidak sedikit, tapi pekerja kami pantang surut. Ini menjadi motivasi untuk total melayani saudara-saudara kami yang berada di ujung negeri. Sebab mereka juga memilik hak yang sama untuk menikmati BBM dengan harga terjangkau sebagai bentuk keadilan energi," tutupnya.(OL-4)

BERITA TERKAIT