03 October 2019, 12:35 WIB

Mabes Polri Ungkap 6 Polisi Bawa Senjata Api Saat Demo di Sultra


Ferdian Ananda Majni | Politik dan Hukum

MI/Susanto
 MI/Susanto
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo

KEPALA Biro Provost Divisi Propam Mabes Polri, Brigjen Hendro Pandowo mengatakan, tim investigasi Polri mengungkap terdapat enam anggota polisi yang membawa senjata api saat demo mahasiswa yang berakhir ricuh di DPRD Sultra pekan lalu.

Oleh karena itu, enam anggota polisi itu diperiksa Propam Polri terkait tewasnya mahasiswa karena tertembak.

"Kami tetapkan enam anggota jadi terperiksa karena saat unras membawa senjata api," ujar Kepala Biro Provost Divisi Propam Mabes Polri, Brigjen Hendro Pandowo, Kamis (3/10).

Menurut Hendro, mereka membawa senjata laras pendek jenis SNW dan HS. Tim investigasi masih memeriksa keenam polisi dari Polda Sultra dan Polres Kendari.

"Ini kita dalami kenapa senjata itu dibawa saat pengamanan unras, padahal sudah disampaikan kapolri untuk tidak bawa senjata," sebutnya

Enam polisi itu berinisial DK, GM, MI, MA, H dan E.  Sebut Hendro, pihaknya melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan pemeriksaan senjata saat pengamanan demo mahasiswa terkait tewasnya Randi Universitas Halu Oleo, Kendari, Sultra.

Dalam olah TKP di Jalan Abdullah Silondae, Kendari, polisi menemukan tiga buah selongsong peluru di saluran drainase di depan kantor Disnakertrans Sultra, Sabtu (28/9). Begitu juga tim dokter forensik yang melakukan autopsi memastikan Randi tewas karena terkena tembakan senjata api.

Sebelumnya, Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan tim investigasi gabungan masih menyelidiki kematian mahasiswa Universitas Halu Oleo dalam aksi demonstrasi di DPRD Sulawesi Tenggara (Sultra), Kamis (27/9) kemarin.

"Tim investigasi sudah bekerja, nanti hasil kerja akan segera mungkin disampaikan kepada rekan-rekan secara terbuka juga, tidak ada yang kita tutup-tutupi," kata Dedi di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (30/9).

Dedi menjelaskan, tim investigasi telah berkerja secara optimal selama beberapa hari di Sulawesi Tenggara. Bahkan, beberapa temuan telah disampaikannya.

"Tim sudah bekerja di sana selama beberapa hari disana, dari propam sudah bekerja, dari inspektorat sdh kemudian dari polisi lokal sendiri, tim gabungan hari ini sdh konsolidasi akan bekerja, kita masih menunggu dulu," pungkasnya.

Sedangkan Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Muhammad Iqbal mengatakan pihaknya akan membentuk tim investigasi gabungan guna menyelidiki kematian mahasiswa Universitas Halu Oleo dalam aksi demonstrasi di DPRD Sultra, Kamis (27/9) kemarin.

"Tim investigasi gabungan akan bekerja, polri tentunya, pihak universitas dan pihak terkait masuk tim investigasi gabungan. Untuk membuka apa penyebab meninggalnya dua mahasiswa. Kita akan buka setransparan mungkin," kata Iqbal di Mabe Polri Jakarta Selatan, Jumat (27/9).

Iqbal menambahkan, tim bentukan polri akan bekerja bila hasil autopsi membuktikan kematian Randi akibat peluru tajam.

"Apabila nanti disimpulkan akibat meninggalnya adalah tembakan, bapak Kapolri sudah membentuk tim investigasi gabungan untuk mencari tahu siapa pelakunya," sebutnya.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian telah meminta Karo Provost Divisi Propam Polri Brigjen Hendro Pandowo dan Inspektur Wilayah Itwasum Polri Brigjen Denni Gabriel, sebut Iqbal untuk memeriksa adanya pelanggaran standar operasional prosedur (SOP) oleh personel Polda Sultra atau Polres Kendari dalam penanganan aksi demo mahasiswa.

"Saat ini bapak Kapolri sudah mengirimkan dua tim. Satu tim propam dan satu dari inspektorat pengawasan umum," jelasnya.

Oleh karena itu, Iqbal berharap masyarakat menunggu dan percaya terhadap proses penyelidikan penyebab kematian korban dan pelaku penembakan kepada tim investigasi bentukan Kapolri tersebut.

"Penyelidikan dilakukan secara ilmiah. Dua orang ini bekerja untuk memastikan apakah ada kesalahan SOP dan lain-lain. Percayakan kepada kami, kepada tim investigasi gabungan untuk melakukan penyelidikan secara scientific," lanjutnya.

Dedi menyebut mahasiswa Universitas Halu Oleo bernama Randy 21 tewas dalam perjalanan ke rumah sakit ketika ditemukan tak sadarkan diri dalam aksi demontrasi di Gedung DPRD Sultra, Kamis (26/9).

"Mahasiswa dari Universitas Halu Oleo pada saat kegiatan unjuk rasa yang terjadi di depan kantor DPRD diketemukan telah jatuh dan dievakuasi teman-temannya menuju RS korem, dalam perjalanan ke Rumah Sakit (RS) Korem yang bersangkutan meninggal dunia," sebut Dedi.

Dia menjelaskan tim Polda Sultra bekerja sama dengan RS Korem mengevakuasi korban ke RSUD untuk dilakukan autopsi oleh Tim Disaster Victim Identification (DVI) dari dokter RS Bhayangkara, RS Korem dan RS Kendari.

"Masih proses autopsi untuk mengetahui apa yang menjadi penyebab utama kematian yang bersangkutan," terangnya.

Diketahui mahasiswa perikanan semester 7 itu meninggal dunia usai terlibat bentrokan dengan polisi di gedung DPRD Sultra, Kamis (26/9)

Randy dibawa ke rumah sakit Korem Kendari sekitar 16.18 WITA oleh sejumlah temannya usai diterjang peluru bagian dadanya.

Warga asal Desa Lakarinta Kabupaten Muna itu sempat mendapatkan perawatan medis di Rumah Sakit Korem Kendari. Nyawanya tidak bisa diselamatkan karena peluru menembus dada kanannya.

Selain korban meninggal, salah satu mahasiswa Teknik UHO Kendari bernama La Ode Yusuf Kardawi mengalami kritis setelah kepalanya dihantam oleh aparat.(OL-09)

BERITA TERKAIT